Studi Akuntansi, Keuangan, dan Manajemen (Sakman) ISSN2798-0251, Vol 2, No 1, 2022, 29-44 https://doi.org/10.35912/sakman.v2i1.1428 Pengaruh SiLPA dan PAD terhadap Serapan Anggaran di Provinsi Lampung (The Influence of SiLPA and PAD on Budget Absorption in Lampung Province) Sekar Sitaresmi 1 , Heru Wahyudi 2* Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Lampung, Bandar Lampung 1,2 heru.wahyudi@feb.unila.ac.id 2* Riwayat Artikel Diterima pada30 Agustus 2022 Revisi 1 pada 5 September 2022 Revisi 2 pada 15 September 2022 Disetujui pada 25 September 2022 Abstract Purpose: This study aims to see the effect of SiLPA and PAD on budget absorption in Lampung Province in 15 districts/cities in 2018 Research methodology: The analytical method used in this study is the Panel Data Analysis method with the FEM (Fixed Effect Model) model with the independent variables being the remaining budget for the current year, the remaining budget for the previous yea,r and local revenue. Results: The results of this study indicate that Local Revenue has a positive and significant effect on budget absorption in 15 districts/cities of Lampung Province, and the remaining budget for the current year has a negative and significant effect on budget absorption in 15 districts/cities of Lampung Province, while the remaining budget for the previous year has a negative and insignificant effect. on budget absorption in 15 districts/cities of Lampung province. Limitations: The limitation of this study is that it is only in 15 districts/cities in the province of Lampung and uses 2018 data Contribution: This research is expected to provide input and contribute information in budgeting policy-making and APBD implementation to maximize budget absorption. Keywords: Budget Absorption, Previous Year's Remaining Budget, Regional Original Revenue, Remaining Current Year's Budget How to cite: Sitaresmi, S., & Wahyudi, H. (2022). Pengaruh SiLPA dan PAD terhadap Serapan Anggaran di Provinsi Lampung. Studi Akuntansi, Keuangan, dan Manajemen, 2(1), 29-44. 1. Pendahuluan Lambatnya penyerapan anggaran menjadi fenomena klasik di pemerintahan. Penyerapan anggaran secara umum hanya memiliki akselerasi tinggi pada akhir tahun namun rendah di awal tahun. Hal ini berdampak pada lambatnya realisasi pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah. Penyerapan anggaran memiliki arti penting dalam pencapaian tujuan nasional, yaitu peningkatan dan pemeliharaan kesejahteraan rakyat. Ketika penyerapan anggaran gagal memenuhi target, berarti telah terjadi inefisiensi dan inefektivitas pengalokasian anggaran (BPKP 2011). Minimnya penyerapan anggaran di pemerintah daerah sebagai buruknya kinerja birokrasi. Penyerapan anggaran penting untuk mendorong terciptanya multiplier effect terhadapekonomi. Penelitian yang dilakukan oleh Maini, Abdullah, and Zuraida (2020) Rendahnya penyerapan anggaran pemerintah daerah Kabupaten/Kota di Aceh, menyatakan bahwa sisa anggaran tahun sebelumnya berpengaruh negatif terhadap serapan anggaran dan waktu penetapan anggaran tidak berpengaruh terhadap serapan anggaran. Namun, hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Arif (2016) pada kabupen/kota di Provinsi Riau yang menyatakan bahwa lambatnya pengesahan APBD merupakan faktor yang paling mendominasi terjadinya minimnya penyerapan APBD.