J. Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA, 2021, 5 (1), 47-52 Available online at: http://journal.uny.ac.id/index.php/jpmmp Copyright © 2021, JPMS, ISSN: 2549-4899 Kasus Gigitan Ular Berbisa di Indonesia Case of Venomous Snake Bite in Indonesia Maula Haqul Dafa, Slamet Suyanto Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta Email: maulahaqul.2017@student.uny.ac.id Abstrak Ular merupakan satwa liar yang habitatnya paling dekat dengan manusia. Gigitan ular dikategorikan WHO sebagai “Neglected Tropical Disease” atau Penyakit Tropis Terabaikan dan menyumbang kematian lebih dari 100.000 orang di seluruh dunia tiap tahun, sebagian besar berasal dari negara berkembang yang terletak di daerah tropis dengan penduduk padat. Kematian akibat gigitan ular disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu tingkat bisa ular yang menggigit, keadaan korban, penanganan pertama, akses ke rumah sakit yang memadai, dan ketersediaan antivenom. Penanganan pertama yang tepat ketika tergigit ular berbisa adalah dengan imobilisasi, yaitu membuat bagian tubuh yang tergigit hanya bergerak seminimal mungkin atau bahkan tidak bergerak, dan mendapatkan antivenom via infus jika sudah memasuki fase sistemik. Ketidaktahuan masyarakat mengenai penanganan pertama yang tepat dan dianjurkan serta ketidaktersediaan antivenom ular yang tepat di rumah sakit dapat meningkatkan jumlah orang yang tewas akibat gigitan ular. Kata kunci: kasus gigitan ular, bisa ular, imobilisasi, antivenom. Abstract Snakes are wild animals whose habitat is closest to humans. Snake bites are categorized by WHO as " Neglected Tropical Disease " and contribute to the death of more than 100,000 people worldwide each year, mostly from developing countries located in tropical regions with dense populations. Death due to snakebite is caused by several factors, namely the rate of snake bite, the condition of the victim, first treatment, adequate access to hospital, and availability of antivenom. The first appropriate treatment when bitten by a poisonous snake is by immobilization, which makes the bitten part of the body only move to a minimum or even not moving, and get antivenom via infusion if it has entered the systemic phase. Public ignorance of the first proper and recommended treatment and the unavailability of proper snake antivenom in hospitals can increase the number of people killed by snake bites. Key words: snake bite cases , snake venom, immobilization, antivenom. PENDAHULUAN Ular merupakan satwa liar yang mempunyai habitat terdekat dengan manusia. Binatang ini masih dapat ditemukan di pohon-pohon yang berada di halaman rumah, di pekarangan, sawah, saluran air, bahkan terkadang masuk ke kediaman warga. Ular sendiri termasuk dalam reptilia atau hewan melata yang merupakan hewan ektotermik atau berdarah dingin. Itu berarti, ular tidak dapat memproduksi panas tubuhnya sendiri sehingga harus mengandalkan pada panas lingkungan sekitarnya agar bisa beraktivitas. Hal inilah, salah satu faktor yang menyebabkan banyak ular berada di daerah tempat tinggal manusia. Konfrontasi manusia dengan ular terhitung sering terjadi, terutama di negara