Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya ISSN 2087-8907 (Print); ISSN 2052-2857 (Online) Vol. 13, No. 2, Juli 2023, hlm. 132-144 Tersedia online: http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JA DOI: 10.25273/ajsp.v13i2.15827 132 Copyright@Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya Some rights reserved The reconstruction of palupuh: The story of the natuurmonument and defense base in 1948 Fikrul Hanif Sufyan 1* , Destel Meri 1 , Nahdatul Hazmi 1 , Y Yuhardi 1 , Aldi Saputra 1 1 STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, Jl. Prof. M. Yamin Kota Payakumbuh Sumatra Barat, Indonesia Email: sufyanfikrulhanif@gmail.com*; destelmeri05@gmail.com; hazminahdatul@gmail.com; yuhardi537@gmail.com; aldisahputra367@gmail.com Informasi artikel: Naskah diterima: 28/2/2023; Revisi: 30/5/2023; Disetujui: 6/6/2023 Abstract: Palupuh had an important role in the past. Because the area, which was part of the Oud Agam Sumatra Westkust during the Dutch colonial era, was once designated by the government as a natuurmonument or forest conservation area. During the emergency government of the Indonesian republic (PDRI), it was once an important part of the defense of the mobilie brigade or mobbrig, and the ranks of the people from the onslaught of the Dutch army. In principle, this article aims to explain how Palupuh was before independence and the importance of this area for the defense base in 1948-1949. This article is organized in accordance with historical methods, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The research findings show that during 1948-1949, when the Dutch bombarded Bukittinggi, the mobilie brigade moved its defense base several times. The final choice was Palupuh, which was a defense base in protecting Pasaman, which is in the north and Luhak Limopuluah Koto in the south. The mobrig troops and the nagari or kota defense line (BPNK) heroically guarded the defense bases to the north and south. Keywords: Palupuh; defense; independence Abstrak: Palupuh pada masa lalu mempunyai peran penting. Oleh karena daerah tersebut yang menjadi bagian dari Oud Agam Sumatra Westkust di masa Kolonial Belanda, pernah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan natuurmonument atau konservasi hutan. Pada masa pemerintah darurat republik Indonesia (PDRI) pernah menjadi bagian penting untuk pertahanan mobilie brigade atau mobbrig, dan barisan rakyat dari gempuran tentara Belanda. Secara prinsip artikel ini bertujuan untuk menjelaskan keadaan bagaimana Palupuh menjelang kemerdekaan dan pentingnya daerah ini untuk basis pertahanan pada tahun 1948-1949. Artikel ini disusun berkesesuaian dengan metode sejarah, yakni heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Temeuan penelitian menghasilkan bahwa ketika tahun 1948-1949, saat Belanda membombardir Bukittinggi, kesatuan mobilie brigade beberapa kali memindahkan basis pertahanannya. Pilihan terakhir adalah di Palupuh yang merupakan basis pertahanan dalam melindungi Pasaman, yang berada di Utara dan Luhak Limopuluah Koto di bagian selatan. Pasukan mobrig dan barisan pertahanan nagari atau kota (BPNK) dengan heroik menjaga basis pertahanan untuk di utara dan selatan. Kata kunci: Palupuh; pertahanan; kemerdekaan Introduction A sentence delivered by the Military Governor of Central Sumatra, Mr. Sutan Moh. Rasjid, exactly a month after the end of the Emergency Government of the Republic of Indonesia or Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) led by Mr. Sjafruddin Prawiranegara (Salim,