[ 19 ] BUDAYA SIRI’ DAN PESSE’ DALAM BINGKAI AKUNTANSI MAKASSAR ANDI FAISAL Universitas Hasanuddin abstract This paper aims to uncover the veil of cultural capitalism in the discourse and practice of accounting today, and offers a paradigmatic change by entering values siri’ and pesse’ culture Bugis - Makassar into the discourse and practice of accounting. Cultural values of capitalism are frmly entrenched in the current accounting practice caused the practice - the practice of cheating. Cheating is suspected to occur because of the paradigm that puts the human being as subject selfsh. siri and pesse’ value are integrated into the discourse and practice of accounting can make accounting have independence, honesty and integrity are more frmly entrenched in him. Keywords: Siri’, Pesse, Cultural, Accounting abstrak Tulisan ini bertujuan untuk membongkar selubung budaya kapitalisme dalam diskursus dan praktek akuntansi saat ini, dan menawarkan perubahan paradigmatic dengan memasukkan nilai-nilai siri’ dan pesse’ budaya Bugis – Makassar ke dalam diskursus dan praktek akuntansi. Nilai budaya kapitalisme yang tertanam kuat dalam praktek akuntansi saat ini menyebabkan terjadinya praktek-praktek kecurangan. Kecurangan tersebut ditengarai terjadi karena adanya paradigm yang menempatkan manusia sebagai subjek yang hanya mementingkan diri sendiri. nilai siri’ dan pesse’ yang diintegrasikan kedalam diskursus dan praktek akuntansi dapat menjadikan akuntansi memiliki independensi, kejujuran dan integritas yang semakin tertanam kuat dalam dirinya. Kata Kunci: Siri’, Pesse, Budaya, Akuntansi PenDahuluan Budaya dapat diklasifkasi kedalam kerangka pemikiran dan kerangka fsik. Dalam kerangka pemikiran budaya memberikan suatu mindset atau sudut pandang tertentu tentang bagaimana seharusnya manusia berprilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Sedangkan dalam kerangka fsik budaya dicerminkan dalam suatu symbol tertentu yang membedakan antara satu budaya dengan budaya yang lain, seperti Budaya Jawa, Bali, Bugis-Makassar, dan lain-lain. Mindset atau sudut pandang budaya tertentu, secara khusus Budaya Bugis- Makassar berisi tujuan hidup, nilai-nilai, serta prinsip-prinsip yang harus dianut oleh setiap orang yang hidup dalam budaya tersebut. Kebanyakan nilai-nilai yang terkandung dalam Budaya Bugis-Makassar lebih bersifat intuitif ketimbang rasional. Hal tersebut disebabkan karena tujuan hidup bersama lebih pada bagaimana menyelaraskan diri dengan alam bukan bagaimana menaklukkan alam. Masuknya modernisasi di berbagai bidang kehidupan, turut serta membawa masuk nilai- nilai budaya masyarakat Barat. Nilai-nilai yang dulunya dipandang sacral dan dipegang kuat, digeser dan diganti dengan nilai-nilai Barat. Pandangan hidup masyarakat yang bersifat holistic dan transendental digeser oleh pandangan hidup yang pragmatis dan materialis. Konsep etika masyarakat yang dulunya didasarkan atas perenungan intutitif dan penghayatan akan nilai-nilai spritualitas digeser oleh etika yang berbasis pada rasionalisme dan utilitarianisme.