Efektivitas teknik relaksasi dalam menurunkan kecemasan pekerja migran Indonesia di Malaysia Cognicia p-ISSN 2746-8976; e-ISSN 2685-8428 ejournal.umm.ac.id/index.php/cognicia 2023, Vol 11(1):18 DOI:10.22219/cognicia.v11i1.24948 ©The Author(s) 2023 cba 4.0 International license Nurfatihah Dahlan 1 , Sofa Amalia 2 , dan Muhammad Fath Mashuri 3 Abstract The problems experienced by Indonesian migrant workers are very diverse, such as employment problems, neglect and so on. This can trigger anxiety so that handling efforts such as relaxation are needed. This study aims to test the effectiveness of relaxation in reducing anxiety levels in Indonesian migrant workers at the Shelter of the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur. This study used a quantitative approach with a pre-experimental research design in the form of a one-group pretest-posttest design that measured adaptation to the Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21). The population in this study were all PMIs with moderate to high levels of anxiety who were at the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur, which were obtained using a purposive sampling technique. The data that has been obtained from the field is then processed by JASP 0.16 (Jeffreys’ Amazing Statistics Program) using Wilcoxon signed-rank test analysis. The results of this study indicate that the hypothesis is rejected, namely relaxation is not effective in reducing anxiety for Indonesian Migrant Workers who are in Shelters at the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur, as seen from a probability of 0,098 (p > 0,05). The rank-biserial correlation (rB) as an effect size with a value of 1.000 r b > 0.5 indicates a large effect size. This research is a reference for the Indonesian Embassy in Malaysia in dealing with anxiety problems that are often experienced by PMI in Malaysia. Keywords Anxiety, Indonesian migrant workers, relaxation Pendahuluan 1 Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau yang sering disebut 2 tenaga kerja Indonesia (TKI) menjadi salah satu penyumbang 3 devisa negara setelah sektor migas. Badan Perlindungan 4 Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat dana pemasukan 5 dari PMI sekitar dengan angka Rp. 159,6 T per tahun (BP2MI, 6 2022). Hal tersebut tidak lepas dari begitu banyaknya PMI 7 yang berminat bekerja di luar negeri. PMI memilih merantau 8 dan bekerja di luar negeri sebagai pekerja kasar dan asisten 9 rumah tangga karena begitu sulitnya mendapatkan pekerjaan 10 di Indonesia dengan pendidikan mereka yang terbatas. 11 Beberapa PMI tertarik dengan besarnya gaji yang diterima 12 oleh pekerja di luar negeri berdasarkan dari pengalaman 13 rekannya yang sudah terlebih dahulu bekerja. 14 Salah satu negara tujuan utama para PMI yaitu Malaysia. 15 Berdasarkan seri publikasi bulan September yang dirilis oleh 16 Pusat Data dan Informasi yang menyajikan beragam jenis data 17 bersumber dari sistem pengolahan data Badan Perlindungan 18 Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) diperoleh informasi jika 19 Malaysia menjadi negara penempatan tertinggi pertama 20 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yakni sebanyak 6.847 orang. 21 Selain itu, Malaysia juga menjadi negara pengaduan PMI 22 tertinggi kedua sebanyak 16.5% setelah Saudi Arabia (BP2MI, 23 2022). Malaysia sebagai negara tujuan utama PMI memiliki 24 akses lebih untuk mempekerjakan tenaga kerja dari Indonesia. 25 Banyaknya PMI di Malaysia juga menyebabkan tingginya 26 tingkat kekerasan yang terjadi di Malaysia, khususnya kasus 27 kekerasan seksual terhadap PMI perempuan di Malaysia. Hal 28 ini menjadi perhatian khusus terhadap upaya perlindungan 29 human security. PMI melalui diplomasi protektif yang 30 dilakukan KBRI Malaysia (Magdalena, 2020). Adanya 31 Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur 32 membantu melayani sejumlah besar pekerja migran Indonesia 33 di Malaysia. PMI yang sedang bermasalah dan membutuhkan 34 tempat tinggal sementara, KBRI menyediakan tempat tinggal 35 sementara yang disebut shelter. Mayoritas PMI yang berada 36 di shelter tersebut menunggu untuk dipulangkan ke Indonesia. 37 Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak KBRI Kuala 38 Lumpur diperoleh informasi bahwa permasalahan yang 39 dihadapi oleh PMI yang berada di shelter KBRI Kuala 40 Lumpur sangat beragam. Permasalahan tersebut termasuk 41 gaji yang tidak dibayar, PMI gagal berangkat, pekerjaan 42 tidak sesuai perjanjian kerja, terlantar, tidak memiliki 43 dokumen, tindak kekerasan dari majikan, penipuan oleh agen, 44 depresi/sakit hingga perdagangan orang. Kondisi PMI di sana 45 dengan berbagai permasalahan yang dihadapi, apalagi jika 46 mereka harus berhadapan dengan hukum, hubungan jarak 47 jauh dengan keluarga di Indonesia dan tuntutan adaptasi 48 lingkungan baru juga tidak mudah untuk dihadapi oleh PMI. 49 Kondisi ini yang dapat memicu terjadinya masalah psikologis 50 seperti tingkat kecemasan sedang hingga tinggi pada PMI 51 di shelter KBRI Kuala Lumpur. Stres dan kecemasan dapat 52 1, 2, 3 Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, Indonesia Corresponding author: Dahlan, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia Email: nurfatihahdahlan@webmail.umm.ac.id Prepared using psyj.cls [Version: 2021/02/25 v1]