J u r n a l M a n a j e m e n T e k n o l o g i 253 Volume 9 Number 3 2010 Yuni Ros Bangun Mahasiswa Program Doktor Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor Sjafri Mangkuprawira Asep Saefuddin Setiadi Djohar Institut Pertanian Bogor Abstract Organizational Capability is considered to be one of the most important issues in strategic management and human capital literature. Organizational Capability can be understood as the all elements that work efficiently and effectively to help organization create its strategy that fits to its industry level of turbulence and to achieve company performance. Previous research confirmed the identification of nine (9) elements as organizational capability. These are speed innovation, customer connectivity, seeks related change, strategic responsiveness, international working environment, ready to strategic alliances, efficiency and talent. Research confirmed that Organizational Capabilities have positive impact to Organizational Performance. Research shows the connection between the three variables –Leadership –Organizational Culture and Political Behavior in creating Organizational Capability and its impact to Organizational Performance. Structural Equation modeling shows that Leadership and Organizational Culture do not have direct relationship with Organizational Performance, however both have positive relationship with Organizational Capability. Organizational Performance was directly influenced positively by Organizational Capability and negatively impacted by Organizational Politics. Leadership positively impact Organizational Capability and Organizational Culture, however leadership negatively impact Organizational Politics. Keywords: Strategic Management,Organizational Capability,Strategic Leadership, Culture, Organizatinal Politics,Government Owned Companies 1. Pendahuluan 1.1. Industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Kapabilitas Organisasi Tidak dapat diingkari bahwa subsektor perkebunan merupakan sektor agribisnis yang berperan besar dalam perekonomian di Indonesia. Kelapa sawit sebagai tanaman perkebunan menjadi satu komoditas perkebunan yang mengalami kemajuan pesat dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya seperti karet dan kelapa ( Susila, Drajat, 2002). Hanya saja dalam pengembangan lanjut industri perkebunan secara umum mengalami beberapa kendala yaitu antara lain fluktuasi harga internasional . Fluktuasi harga ini sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain faktor alam (iklim), faktor biologis ( masa tanaman belum menghasilkan yang lama) , faktor adanya peran aktor pengamat lingkungan , sehingga penawaran (supply) jangka pendek menjadi tidak elastis. Sedangkan disisi permintaan ( demand), juga sangat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu permintaan pada komoditas perkebunan tertentu akibat kenaikan harga bahan bakan minyak dunia Oleh karena itu perusahaan perkebunan haruslah ”lincah” (lebih fleksible) dalam mengatasi dan mengurangi dampak fluktuasi harga tersebut. Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia merupakan sumber devisa yang mengalami pertumbuhan dari tahun ketahun. Pada tahun 2007 produksi CPO Indonesia mencapai 17,2 juta ton dari lahan perkebunan hampir 7 juta hektar. Sejalan dengan regulasi kepemilikan perkebunan oleh pemerintah pada perusahaan besar pada awal tahun 1980 an melalui program PBSN telah membuat Indonesia menjadi negara pengekspor minyak sawit terbesar didunia bersama dengan negara Malaysia. Akan tetapi pengembangan kemajuan tersebut juga disertai dengan perubahan yang dirasakan dapat menjadi ancaman pertumbuhan industri yaitu harga CPO dunia yang senantiasa berubah, perubahanan dan campur tangan pihak lain seperti aktivis lingkungan dengan isu perkebunan kelapa sawit yang tidak memperhatikan lingkungan , serta isu lain nya seperti isu kesehatan. Dilain pihak perusahaan perkebunan internasional dari negara lain mencari peluang kepemilikan lahan perkebunan kelapa sawit dapat menjadi ancaman turut mempengaruhi turbulensi lingkungan industri secara makro. Perkembangan pertumbuhan industri CPO diduga belum memberi kinerja yang sebaik negara tetangga Malaysia, baik dari segi produktivitas maupun diversifikasi produk turunannya. (Pakpahan A,2000). Kehadiran perusahaan swasta dalam perkebunan kelapa sawit yang difasilitasi pemerintah sejak akhir tahun 1990, memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan produksi nasional, disamping perkebunan yang dimiliki rakyat. Namun kinerja Perkebunan Kelapa Sawit milik negara tertinggal dari kinerja Perkebunan Kelapa Sawit Swasta baik dari segi produktivitas maupun dari kinerja pertumbuhan laba ( Djalil S, 2007). Adanya anggapan bahwa Perusahaan Kelapa Sawit milik negara (PTPN ) yang merupakan sejarah keterkaitan dengan masa kolonial membuat PTPN ”dianggap relatif lambat” dalam mengantisipasi perubahan. Ini juga terkait dengan paradigma masa kolonial bahwa negara Indonesia sebagai negara sumber bahan baku. Tentu saja ini masih memerlukan kajian lanjut apakah anggapan ini masih relevan, atau mungkin juga PTPN telah mengalami banyak transformasi dalam pengelolaannya . Tingginya harga minyak sebagai bahan bakar mineral membuat permintaan dunia akan minyak sawit sebagai bio fuel ( green energy) membuat pasar minyak sawit dunia menjadi rentan terhadap lingkungan ekonomi makro dan aspek politis lainnya. Pemodelan Kapabilitas Organisasi terhadap Kinerja Ditinjau dari Faktor Kepemimpinan- Budaya Organisasi- Perilaku Politik dalam Organisasi-Studi Kasus pada Kelompok Perkebunan Kelapa Sawit Negara dan Kelompok Perkebunan Kelapa Sawit Swasta Pemodelan Kapabilitas Organisasi terhadap Kinerja Ditinjau dari Faktor Kepemimpinan- Budaya Organisasi-Perilaku Politik dalam Organisasi-Studi Kasus pada Kelompok Perkebunan Kelapa Sawit Negara dan Kelompok Perkebunan Kelapa Sawit Swasta 252