TONGKONAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2, No. 1 Juni 2023 E-ISSN 2961-7081 | doi: 10.47178/tongkonan.v2i1.2059 35 Faktor Penyebab Kesulitan Membaca Siswa SDN 26 Pa’baeng- Baeng Kabupaten Jeneponto Abdurrachman Rahim 1 , Nurwidyayanti 2 , Muhammad Rifqi Alfianda Syam 3 , Fajar Islam 4 , Meinike 5 , Lidya Cristiani 6 1,2,3,4,5,6 Universitas Bosowa e-mail: rahim.abdurrachman@gmail.com Abstrak Belajar membaca tidaklah mudah, siswa sering kali dihadapkan pada permasalahan yang ada di dalam dan di luar dirinya atau yang biasa disebut faktor internal dan eksternal. hal inilah yang menjadi penyebab kesulitan belajar membaca siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan faktor-faktor kesulitan belajar membaca pada siswa kelas VI SDN 26 Pa’baeng-baeng Kabupaten Jeneponto. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab siswa mengalami kesulitan belajar membaca yaitu karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi tingkat kecerdasan siswa dan kurangnya motivasi serta minat membaca siswa. Adapun faktor eksternal yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar membaca yaitu keadaan lingkungan keluarga dan keadaan ekonomi orang tua. Kata Kunci: Kesulitan Membaca, Sekolah Dasar 1. PENDAHULUAN Pendidikan sekolah dasar merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan dan mencetak generasi bangsa yang bertaqwa, cinta dan bangga terhadap bangsa dan negara, terampil, kreatif, berbudi pekerti, serta santun dan mampu menyelesaikan permasalahan di lingkungannya. Pendidikan sekolah dasar adalah pendidikan anak yang berusia 7 sampai 13 tahun sebagai pendidikan di tingkat dasar yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan sosial budaya. Pendidikan sekolah dasar merupakan jenjang awal untuk memulai pendidikan formal di mana jenjang sekolah dasar dibagi menjadi dua bagian yaitu kelas rendah yang ditempuh dari kelas 1 sampai kelas 3 dan kelas tinggi ditempuh dari kelas 4 sampai kelas 6. Kebutuhan pendidikan sekolah dasar menjadi peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Sekolah dasar pada saat penelitian ini dilakukan masih menggunakan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 mengajarkan anak agar menjadi berkarakter, cerdas, kreatif, inovatif, dan terampil. Selain itu Kurikulum 2013 mencampurkan beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Sosial Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan menjadi satu kesatuan bernama tematik. Untuk pembelajaran tematik kelas tinggi mempelajari semua mata pelajaran sedangkan untuk pembelajaran tematik kelas rendah terdapat hanya beberapa mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, Sosial Budaya, serta