https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum 9 doi:10.24843.MU.2021.V10.i3.P02 ISSN: 2597-8012 JURNAL MEDIKA UDAYANA, VOL.10 NO.2,MARET, 2021 Diterima:03-01-2020 Revisi:2-03-2021 Accepted: 12-03-2021 PERBEDAAN RERATA PANJANG LARVA LALAT PADA BANGKAI TIKUS WISTAR YANG TERPAPAR DOSIS LETAL DEKSTROMETORFAN DENGAN YANG TIDAK TERPAPAR Revina Amalia Saputra 1 , Ida Bagus Putu Alit 2 , Kunthi Yulianti 3 1 Program StudiiPendidikan Dokter Fakultas KedokterannUniversitas Udayanaa 2 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Kedokteran Universitas Udayanaa e-mail: revinaa956@gmail.com ABSTRAK Penentuan waktu kematian penting dilakukan pada kematian tidak wajar. Salah satu cara menentukan waktu kematian adalah dengan entomologi forensik, terutama berdasarkan larva lalat sebagai salah satu temuan post- mortem. Untuk itu, penting untuk mengetahui faktor-faktorryang mempengaruhi i pertumbuhan larva lalat. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh konsumsi dekstrometorfan ante-mortem terhadap pertumbuhan larva lalat post- mortem. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental post-test t only with control l group dengan subyek tikuss wistar. Subyek dikontrol untuk jenis kelamin, usia, berat badan, kecacatan fisik, makanan dan minuman lalu diacak dalam kelompok kontrol dan perlakuan. Kelompok perlakuanndibunuh dengan pemberian dekstrometorfan hingga dosis letal, kelompok kontrol dibunuh dengan dislokasi servikal. Bangkai tikus diletakkan di tempat terbuka selama tujuh hari lalu panjang larva lalat diukur setiap hari pada hari kedua hingga kelima. Analisa uji beda dilakukan untuk semua hari pengukuran dengan aplikasi SPSS 23.0. Rerata panjang larva lalat pada hari kedua hingga kelima pada kelompok kontrol masing-masing adalah 2,97 mm, 7,90 mm, 13,14 mm, dan 15,40 mm. Pada kelompok perlakuan rerata panjang larva lalat masing-masing adalah 3,82 mm, 11,98 mm, 15,22 mm, dan 17,57 mm. Perbedaan rerata panjang larva ini signifikan dengan nilai p<0,001 untuk semua hari pengukuran dan beda rerata untuk masing-masing hari adalah 0,85 mm, 4,08 mm, 2,08 mm, dan 2,17 mm. Penelitian ini menemukan perbedaan signifikan panjang larva lalat pada semua hari pengukuran dengan larva ditemukan lebih panjang pada kelompok perlakuan. Penelitian ini adalah yang pertama mempelajari hubungan dekstrometorfan dengan laju pertumbuhan larva lalat. Kata kunci: dekstrometorfan, larva lalat, entomologi forensik ABSTRACT Determination of the time of death is important to do on unnatural deaths. One way to do it is by forensic entomology, mainly based on flies larvae as one of the post-mortem findings. For this reason, it is importanttto know the factorssthat influence growth rate offflies larvae. This study aims to study theeeffect of ante-mortem dextromethorphan consumption on the growth of larvae post-mortem. This study used post testtonlyywith control grouppdesignnwith wistar rat subjects. Subjects were controlled for sex, age, weight, physical disability, food and drink and then randomized in the control and treatment groups. The treatment groups was killed by lethal dose of dextromethorphan, the control group was killed by cervical dislocation. Carcasses were placed in the open for seven days then the length of the flies larvae was measured every day on the second to fifth day. Mean difference analyses were carried out for all measurement days with the SPSS 23.0 application. The average length of flies larvae on the second to fifth day in the control group were 2.97 mm, 7.90 mm, 13.14 mm, and 15.40 mm, respectively. In the treatment group, the average length of flies larvae was 3.82 mm, 11.98 mm, 15.22 mm, and 17.57 mm, respectively. Length difference is significant with p values <0,001 for all measurement days and the mean difference for each day is 0.85 mm, 4.08 mm, 2.08 mm, and 2.17 mm. This study found a significant difference in the length of flies larvae on all measurement days with the larvae found longer in the treatment t group. This research is the first toostudy theerelationship between dextromethorphan and flies larvae rate. Keywords: dextromethorphan, flies larvae, forensic entomology JMU Jurnal medika udayana