92 ASPEK SOSIOLOGI SASTRA DALAM NOVEL MENGGAPAI MATAHARI KARYA DERMAWAN WIBISONO Ryan Hidayat Program Studi Arsitektur, FTMIPA Universitas Indraprasta PGRI Jl.Nangka 58 Tanjung Barat Jagakarsa Jakarta Selatan email : ryansastra3@gmail.com DOI: 10.26858/retorika.v 10i2.4855 Abstract. The Novel Analysis Menggapai Matahari created by Dermawan Wibisono viewed from the sociology aspect of literary. The purpose of this research is to described the aspects of sociology the work of literature in Menggapai Matahari. The methodology used in this research was a method of from the analysis of the contents of the descriptive. The novel have been analyzed based on the aspect of sociology literature, (1 ) the element of a social system: a political system as many as 3 points, a system of belief as many as 7 points, the economic system as many as 2 points, and the system of education as many as 7 points, (2) value system as many as 2 points and a system of an idea as many as 3 points , and (3) surveillance equipment sent to the culture as many as 3 points. Abstrak. Analisis Novel Menggapai Matahari Karya Dermawan Wibisono Ditinjau dari Aspek Sosiologi Karya Sastra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan aspek sosiologi karya sastra pada novel Menggapai Matahari . Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis isi. Novel dianalisis berdasarkan aspek sosiologi sastra, yaitu (1) unsur sistem sosial: sistem politik sebanyak 3 poin, sistem kepercayaan sebanyak 7 poin, sistem ekonomi sebanyak 2 poin, dan sistem pendidikan sebanyak 7 poin, (2) sistem nilai sebanyak 2 poin dan sistem ide sebanyak 3 poin, dan (3) peralatan budaya sebanyak 3 poin. Kata kunci : sosiologi sastra, novel, menggapai matahari Sastra merupakan suatu pencerminan ke- hidupan masyarakat. Setiap karya sastra dapat mengungkapkan jalan cerita yang dialami oleh seseorang (tokoh) dan aspek-aspek kehidupan manusia dan kemanusiaan yang lebih mendalam. Aspek kemanusiaan itu akan menjelaskan peris- tiwa dengan berbagai macam problema yang berhubungan dengan konflik kehidupan. Dalam kaitannya dengan sastra, tidak hanya karya be- rupa novel saja, tetapi ada puisi, cerpen, drama, hikayat, syair, pantun. Teeuw memberikan definisi sastra berda- sarkan asal-usul katanya (etimologis). “Sebagai bahan bandingan kata Sastra da - lam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta: akar kata sas- dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi. Akhiran kata tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka dari itu Sastra dapat diartikan alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi, atau pengajaran, misalnya Silpa- sastra (buku arsitektur), Kamasustra (bu- ku mengenai seni cinta). Awalnya Su- berarti baik, indah sehingga Susastra dapat dibandingkan dengan bellesletters (Teeuw, 1984 : 44). Menurut Wellek dan Warren dalam teori kesusastraan, sastra adalah suatu kegiatan krea- tif, sebuah karya seni (Wellek dan Warren, 1997:3). Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam seni kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk