PEDULI: Jurnal Ilmiah Pengabdian Pada Masyarakat, 2022, Vol.6, No.2 ISSN: 25974653. EISSN:25974688 http://peduli.wisnuwardhana.ac.id/index.php/peduli/index 32 IMPLEMENTASI MODUL PEMBUATAN MAKANAN PENDAMPING ASI BAHAN PANGAN LOKAL DAN PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA BAGI KADER POSYANDU DAN IBU BALITA DI DESA TAWANGSARI KECAMATAN PUJON KABUPATEN MALANG Endang Sutjiati 1 , Juin Hadisuyitno 2 , I Komang Suwita 3 1.2.3 Poltekkes Kemenkes Malang sutjiatie@gmail.com, juinhadi@gmail.com, ksuwita@gmail.com. Abstract: Stunting is currently a nutritional problem caused by multifactors and requires multisectoral treatment. The potential of posyandu cadres as drivers of the health sector, especially monitoring the growth of toddlers to increase knowledge and skills in helping prevent and overcome nutritional problems (stunting). The problem of stunting in the partner village (Tawangsari village) shows that the provision of food (ASI and MP-ASI) for infants and under-fives is not optimal. The goal of this activity is to increase the knowledge of health cadres and mothers of stunting toddlers about the importance of providing complementary feeding and the practice of food processing techniques made from local foods as the basic ingredients in making MP-ASI and growth monitoring of toddlers. This training is lecture, discussion, demonstration and simulation. Activity is that there is an increase in nutritional knowledge of posyandu cadres and mothers of children under five growth monitoring. Keywords: Stunting, training, growth monitoring, toddlers PENDAHULUAN Stunting merupakan masalah gizi yang disebabkan oleh multifaktor dan membutuhkan penanganan multisektoral. Program penurunan masalah gizi khususnya stunting dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh berbagai sektor untuk mencapai target 14% pada tahun 2024. Berbagai macam intervensi yang dilakukan dengan memberikan intervensi sensitif yang dilakukan oleh lintas sektor diluar bidang kesehatan dan intervensi spesifik yang dilaksanakan oleh sektor kesehatan sebagaimana tercantum di dalam Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Lancet (2013), menyatakan pelaksanaan program intervensi gizi spesifik dapat menurunkan prevalensi stunting sebesar 30% sedangkan 70% dari kegiatan intervensi sensitif. Target tersebut apabila hasil pelaksanaan program kegiatan tercapai minimal 90%. Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2% dan pada tahun 2018 menurun menjadi 30,8%. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting sebesar 27,7%. Hal ini menunjukkan tren penurunan dari tahun sebelumnya. Meskipun stunting terus mengalami penurunan saat ini, namun masih sebagai masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya masih diatas 20%. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mencapai target cakupan yang direkomendasikan. Dalam pelaksanaannya tantangan dihadapi dalam pencapaian target tersebut masih cukup banyak antara lain sumberdaya untuk layanan kesehatan. Jika dilihat dari sumberdaya teridentifikasi bahwa kualitas layanan gizi masih kurang memadai karena sumber daya manusia juga masih kurang dalam hal kapasitas maupun kuantitas, kebutuhan sarana dan prasarana belum mencukupi serta alokasi dana program gizi yang digunakan untuk implementasi langsung di masyarakat. Selain itu tantangan yang lain dihadapi adalah perilaku masyarakat yang masih khususnya pada pemberian makan anak dan juga pada pencegahan dan penanggunalangan masalah-masalah gizi. Beberapa hal yang tersebut antara lain kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) pada ibu hamil maupun remaja putri, praktik pemberian MP-ASI yang masih belum tepat, pengetahuan dan keterampilan kader posyandu yang kurang, dan tingkat partisipasi