Setyo Tri Wahyudi, M. Khusaini, dan Rihana Sofe Nabella/Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, 12(2), 2021, 117 - 129 DOI: 10.22212/jekp.v12i1.1905 2086-6313/2528-4678 ©2021 Pusat Penelitan-Badan Keahlian DPR RI, Setjen DPR RI MENGUKUR PERSISTENSI INFLASI: STUDI KOMPARASI DELAPAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (Measuring Inflation Persistence: Comparation Study among Eight Cities in East Java) Setyo Tri Wahyudi*, M. Khusaini**, dan Rihana Sofie Nabella*** Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono No. 165, Kota Malang, Jawa Timur 65300, Indonesia *Email: setyo.tw@ub.ac.id, **Email: mohkhusaini@gmail.com, dan ***Email: sofierihana@ub.ac.id Naskah diterima: 19 Oktober 2020 Naskah direvisi: 03 Mei 2021 Naskah diterbitkan: 31 Desember 2021 Abstract Inflation is becoming one of the critical variables in the economy. Any movement in inflation will cause some changes to fundamental economic variables, such as economic growth and unemployment. Therefore, inflation becomes a variable that is often observed and tested, both theoretically and empirically. Stable inflation is a prerequisite for sustainable economic growth, which ultimately benefits the improvement of people’s well-being. Using city-level inflation data in East Java, this study aims to measure inflation’s persistence at the city level in East Java. The persistence of inflation indicates the speed at which the inflation rate returns to its equilibrium level after a shock. This study will also analyze the causes of persistence in eight cities in East Java. In this study, to measure the degree of inflationary persistence, the study used an Autoregressive Univariate Model. The test results found that (1) inflation in eight cities in East Java tended to fluctuate throughout the research period. The highest inflation occurred in Probolinggo City, while the lowest was in Madiun City. The most significant contributors to inflation are food groups. Then (2) the result obtained is the degree of inflation persistence in eight cities in East Java is still relatively high, so it requires attention from regulators. Moreover, the persistence of inflation is caused by high inflation expectations or leading to forward-looking. Based on the findings, the government needs to devise a measured strategy to control inflation to be stable, such as optimizing the Regional Inflation Control Team (TPID). Keyword: inflation, persistence, autoregressive Abstrak Inflasi menjadi salah satu variabel penting dalam ekonomi. Setiap pergerakan inflasi akan menyebabkan beberapa perubahan terhadap variabel fundamental ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi dan pengangguran. Oleh karena itu, inflasi menjadi variabel yang seringkali diamati dan diuji, baik secara teoritis maupun empiris. Pertumbuhan ekonomi dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh angka inflasi yang stabil dan kemudian akan berguna untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Menggunakan data inflasi tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur, penelitian ini bertujuan untuk mengukur persistensi inflasi di tingkat kabupaten/kota di Jawa Timur. Persistensi inflasi menunjukkan kecepatan tingkat inflasi untuk kembali ke tingkat ekuilibriumnya setelah adanya suatu shock. Selain itu, penelitian ini juga akan menganalisis penyebab persistensi di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur. Untuk mengukur derajat persistensi inflasi, penelitian ini menggunakan Model Univariate Autoregressive (AR). Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh temuan bahwa (1) inflasi di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur cenderung berfluktuasi sepanjang periode penelitian. Inflasi tertinggi berada di Kota Probolinggo, sedangkan yang terendah adalah Kota Madiun. Komoditas penyumbang inflasi terbesar dari kelompok bahan makanan, contohnya telur ayam ras, beras, ayam ras, tomat sayur, bawang merah, dan daging sapi. Kemudian (2) hasil yang diperoleh adalah derajat persistensi inflasi di delapan kabupaten/kota di Jawa Timur masih terbilang tinggi sehingga memerlukan perhatian dari regulator. Selain itu, persistensi inflasi ini disebabkan oleh tingginya ekspektasi inflasi atau mengarah ke forward looking. Berdasarkan temuan, pemerintah perlu menyusun strategi yang terukur dalam mengendalikan inflasi supaya stabil, seperti mengoptimalkan peran Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Keyword: inflasi, persistensi, autoregressive PENDAHULUAN Inflasi merupakan variabel penting dalam perekonomian dan mampu memberikan dampak terhadap berbagai variabel, seperti pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan pengangguran. Oleh karena itu, stabilitas inflasi dinilai sebagai hal yang vital bagi suatu negara sebagai upaya menjaga perekonomian agar berjalan dengan baik. Membicarakan inflasi tentunya tidak terlepas dari kebijakan moneter. Sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 2003, Bank Indonesia memiliki kewenangan dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Berkaitan dengan kewenangan tersebut, Bank Indonesia sangat perlu mengamati perilaku inflasi yang juga dinilai sangat menentukan tingkat inflasi. Hal ini mengenai waktu dan besaran respons kebijakan moneter yang perlu dijalankan untuk mewujudkan inflasi yang stabil dan rendah. Inflasi dalam beberapa tahun ini cenderung berfluktuasi sehingga berdampak negatif terhadap perekonomian. Berikut pergerakan angka inflasi di Jawa Timur dalam waktu sepuluh tahun.