Jurnal Teknologi Informasi dan Terapan (J-TIT) Vol. 9 No. 1 Juni 2022 ISSN: 2580-2291
DOI: https://doi.org/10/25047/jtit.v9i1.272 ©2022 JTIT
37
Model Perilaku Keamanan Siber Pada Pengguna
Sosial Media Pada Masa Pandemi Covid-19
Ameilia Nur Aini
Sekolah Tinggi Keamanan
Negara
Jakarta, Indonesia
ameilianur@gmail.com
Edy Wahyudi
School of Social and
Political Sciences, Jember
University, Indonesia
Jember, Indonesia
edydata75@gmail.com
Imannurdin Abdillah
School of Social and
Political Sciences, Jember
University, Indonesia
Jember, Indonesia
imannurdin.2014@gmail.c
om
Ery Setiyawan Jullev A
Information Technology
Department, Politeknik
Negeri Jember, Indonesia
ery@polije.ac.id
Abstract— The use of social media is very developed during
the COVID-19 pandemic, this increases the risk of data leakage,
most of which are caused by internal parties from social media
users themselves. For that we need an instrument that can
measure the behavior of users who are at risk of social media
that is used to minimize the potential for such leaks. This
research consists of three stages including a literature review on
aspects that affect the security of the social media system. The
second stage is the preparation of a questionnaire design
regarding the risk of cyber attacks on social media. Then the
third stage is testing the reliability and validity of the
questionnaire. Based on the research, there are 4 aspects that
affect the security of social media, namely the use of electronic
devices, access to social media, internet behavior, and unusual
events in health facilities. The developed questionnaire consists
of 27 question items which are divided into these 4 aspects. In
the overall validity test the items are valid (r count > r table).
While the reliability test of the questionnaire was reliable with
Cronbach's Alpha value of 0.867. The developed questionnaire
design can be applied to assess the risk of cyber attacks on social
media among workers. Further research is needed to implement
the questionnaire design.
Keywords— Cyber attack, quistioner, reliability, Social media,
validity
Abstrak—Penggunaan social media sangat berkembang
pada masa pandemic covid19, hal ini meningkatkan resiko
kebocoran data, kebocoran yang terbanyak disebabkan oleh
pihak internal dari pengguna social media itu sendiri. Untuk itu
diperlukan sebuah instrumen yang dapat mengukur perilaku
pengguna yang berisiko terhadap social media yang digunakan
untuk meminimalisir potensi kebocoran tersebut. Penelitian ini
terdiri dari tiga tahap meliputi kajian pustaka mengenai aspek
yang berpengaruh terhadap keamanan sistem social media.
Tahap kedua penyusunan desain kuesioner mengenai risiko
serangan siber pada social media. Kemudian tahap ketiga
pengujian reliabilitas dan validitas kuesioner. Berdasarkan
penelitian terdapat 4 aspek yang berpengaruh terhadap
keaman social media yaitu penggunaan perangkat elektronik,
akses terhadap social media, perilaku ber-internet, dan kejadian
tidak wajar di fasilitas kesehatan. Kuesioner yang
dikembangkan terdiri dari 27 item pertanyaan yang terbagi
dalam 4 aspek tersebut. Pada uji validitas keseluruhan item
valid ( r hitung > r tabel). Sedangkan pada uji reliabilitas
kuesioner reliabel dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,867.
Desain kuesioner yang dikembangkan dapat diterapkan untuk
menilai risiko serangan siber pada social media di kalangan
pekerja. Penelitian lanjutan diperlukan untuk
mengimplementasikan desain kuesioner tersebut
Keywords— Cyber attack, kuisioner, reliabilitas, Social media,
Validitas
PENDAHULUAN
Selama masa social distancing dan kontak terbatas dengan
orang lain, media sosial menjadi tempat penting untuk
berinteraksi. Platform media sosial dimaksudkan untuk
menghubungkan orang-orang dan membantu dunia tetap
terhubung, sebagian besar meningkatkan penggunaan selama
pandemi. Karena banyak orang diminta untuk tetap di rumah,
mereka beralih ke media sosial untuk teteap berkomunikasi
serta mengakses hiburan untuk mengisi waktu.[1]
Pandemi COVID-19 telah memengaruhi penggunaan media
sosial oleh populasi umum dunia, selebriti, pemimpin dunia,
dan profesional. Layanan jejaring sosial telah digunakan
untuk menyebarkan informasi, dan untuk menemukan humor
dan gangguan dari pandemi melalui meme internet.[2][3]
Namun, jarak sosial telah memaksa perubahan gaya hidup
bagi banyak orang, yang membebani kesehatan mental.[1]
Banyak layanan konseling online yang menggunakan media
sosial diciptakan dan mulai meningkat popularitasnya, karena
mereka dapat dengan aman menghubungkan petugas
kesehatan mental dengan mereka yang membutuhkannya.[4]
Selain menjadi ancaman global, COVID-19 disebut sebagai
infodemik. Akses langsung ke konten melalui platform
seperti Twitter dan YouTube membuat pengguna rentan
terhadap rumor dan informasi yang meragukan.[5] Informasi
ini dapat sangat mempengaruhi perilaku individu, membatasi
kohesi kelompok dan akan menjadi penghambat bagi
pemerintah dalam menangani pandemic itu sendiri.[5] Selain
itu platform social media juga digunakan oleh politisi,
gerakan politik, dan organisasi kesehatan tingkat nasional
untuk berbagi informasi dengan cepat dan menjangkau
banyak orang.
Sebagai dampaknya terjadi perubahan yang belum pernah
terjadi sebelumnya pada perilaku masyarakat dan difusi
teknologi yang sedang berkembang menghasilkan peluang
baru bagi komunitas bidang penelitian dengan mempelajari
perilaku masayarakat terkait teknologi dalam krisis global.
Sehingga menimbulkan satu pertanyaan mendasar yang perlu
dijawab adalah seberapa banyak yang diketahui tentang
pemanfaatan penggunaan teknologi digital selama pandemi
Covid-19. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh