ABDIMASNU: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1, No. 3, Bulan September, Hlm.55 - 59 e- ISSN 2774-3470 *Moh.Zainul Ma’arif, S1 Gizi, IIKNU Tuban, zenmaarif@gmail.com, 081232729840 KEGIATAN EDUKATIF “TIM AKSI BERGIZI” PADA REMAJA DI KABUPATEN TUBAN Moh. Zainul Ma’arif, 1 Idcha Kusma Ristanti, 2 Dian Ayu Ainun Nafies 3 1,2,3 Program Studi S1 Gizi, Fakultas Kesehatan, Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama Tuban Email : zenmaarif@gmail.com Abstract Nutritional problems in adolescents are increasingly complex due to limited knowledge about balanced nutrition in adolescents. The increasing number of dual nutritional problems, especially in adolescents in Tuban Regency. The Nutrition Action Team is one form of nutrition education efforts to reduce nutritional problems in adolescents. This community service activity is carried out for high school students in Tuban Regency. In the Nutrition Action Team activities, all participants were able to understand well about nutrition in the life cycle of adolescents, adolescent nutrition problems, 10 messages of balanced nutrition. It is hoped that in the future this community service activity can be carried out in a sustainable manner, so as to create a positive attitude towards nutrition, the formation of knowledge and skills in choosing and using food sources, the emergence of good eating habits and the motivation to find out more about matters related to nutrition. Keywords: Nutrition, Youth, Nutrition Education 1. PENDAHULUAN Gizi merupakan komponen yang penting dan memiliki peran sentral untuk mencapai 13 dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals SDG). Melalui perbaikan gizi, banyak tujuan lain yang bisa tercapai untuk menuju ke perbaikan suatu bangsa. Gizi pada remaja merupakan hal yang krusial, karena banyak kebiasaan-kebiasaan terkait gizi seseorang yang dimulai pada saat remaja, akan dibawa sampai ketika mereka dewasa. Oleh karena itu, intervensi gizi harus dimulai sedini mungkin (Kemenkes RI, 2019). Masa remaja merupakan masa pertumbuhan yang sangat cepat. Gizi remaja merupakan cerminan masalah gizi pada usia dini dan banyak remaja memasuki tahap perkembangan yang penting ini dalam kondisi menderita stunting, dan/atau anemia dan juga seringkali memiliki berbagai kekurangan zat gizi mikro lainnya. Pada saat yang sama, kebutuhan mereka akan energi, protein, dan zat gizi mikro meningkat secara signifikan dan banyak dari mereka yang mengalami kelebihan berat badan (Kemenkes RI, 2019; Kemenkes RI, 2014). Saat ini, remaja di Indonesia mengalami beban masalah gizi ganda yaitu peningkatan prevalensi kelebihan dan kekurangan gizi. Remaja usia 16-18 tahun, prevalensi kekurusan juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 sebesar 8,9% menjadi 9,4% pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Sedangkan prevalensi kegemukan pada tahun 2010 secara nasional masih kecil yaitu 1,4%, namun mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 7,3% (5,7% gemuk dan 1,6% obesitas) (Badan Litbang Kesehatan, 2013). Kesehatan anak usia sekolah dan remaja saat ini menentukan derajat kesehatan generasi bangsa di masa depan. Kita perlu mempersiapkan mereka menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya melalui pendidikan kesehatan agar mereka mampu menghindari diri dari permasalahan yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (Kemenkes RI, 2019). Ketersediaan akan akses terhadap informasi yang baik dan akurat, serta pengetahuan untuk memenuhi keingintahuan anak usia sekolah dan remaja, akan memengaruhi keterampilan mereka dalam mengambil keputusan untuk berperilaku sehat. Peraturan Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja mengamanahkan strategi peningkatan pengetahuan dan keterampilan anak usia sekolah dan remaja terhadap 8 (delapan) isu kesehatan remaja melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M). Hal ini sejalan dengan Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri 55