151 NILAI KESANTUNAN DALAM MANTRA MEOLI (Politeness Value in Meoli Spell) Heksa Biopsi Puji Hastuti Kantor Bahasa Sulawesi Tenggara Kompleks Bumi Praja, Jalan Haluoleo, Anduonohu, Kendari, Indonesia Pos-el: heksa.bph@gmail.com Abstrak: Mantra meoli hadir sebagai satu paket pentas dalam kemasan ritual adat, yaitu ritual meoli. Ritual meoli merupakan ekspresi kesantunan pelakunya dalam mengutarakan maksud permintaan izin atau permintaan maaf kepada para sangia sebagai penguasa alam, ketika membuka lahan untuk bercocok tanam. Penelitian ini mengkaji nilai kesantunan dalam mantra meoli dengan pendekatan etnopuitika. Permasalahan yang diangkat yaitu bagaimana nilai kesantunan termuat dalam mantra meoli. Dengan menerapkan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka. Dari hasil analisis diketahui bahwa nilai kesantunan dalam mantra meoli mewujud skala prioritas di mana yang diutamakan adalah penjunjungan adat, diikuti dengan permohonan maaf dengan menyebutkan seluruh sangia yang dituju, baru dipungkasi dengan pengutaraan maksud dan harapan sebagai inti pesan dari mantra meoli. Cara pengungkapan yang indah juga mendukung nilai kesantunan dalam mantra meoli. Kata Kunci: nilai kesantunan, mantra meoli, Moronene Abstract: Meoli spell present as one performance package within custom ritual called meoli ritual. Meoli ritual is a politeness expression of the perpetrators in expressing the purpose of request permission or apology to the sangia as the ruler of nature when opening the land to grow crops. This study examines the value of politeness in the meoli spell with the ethnopoetic approach. The issues raised are how is the politeness value existed in the meoli spell. By applying qualitative research method, data collection is done by observation, interview, and literature study. From the analysis, it is known that the value of politeness in the meoli mantra embodies the priority scale in which the preferred is the custom observer, followed by an apology by mentioning the whole of the target, newly expressed by the expression of intent and hope as the core message of the meoli spell. The beautiful way of disclosure also supports the value of politeness in the meoli spell. Keywords: politeness value, meoli spells, Moronene PENDAHULUAN Suku Moronene, salah satu suku yang mendiami wilayah daratan Sulawesi Tenggara, sampai saat ini masih akrab dengan mantra. Mantra menjadi kekayaan sastra lisan suku Moronene yang berbentuk puisi selain ohoohi, ohooho, doede, dan dulele (Hastuti, dkk., 2016, hlm. 7075). Mantra mengisi ruang kehidupan masyarakat Moronene bebarengan dengan masih terpeliharanya pelaksanaan beberapa ritual adat. Suku Moronene yang pada beberapa wilayah terkonsentrasi secara homogen, atau nyaris homogen, membentuk pemukiman adat. Pemukiman adat ini misalnya dapat dijumpai di Hukaea-Laeya, di mana sembilan puluh persen penduduknya adalah suku Moronene. Masyarakat di sana masih mempertahankan sistem dan pranata sosial lokal secara institusional. Hal ini salah satunya teraca dari melembaganya praktik kearifan dan pengetahuan lokal dari leluhur mereka, misalnya pengurusan sumberdaya alam (Muis, 2010). Sistem dan pranata