Prosiding SEMINAR NASIONAL’Komunitas dan Kota Keberlanjutan’ e-ISSN : 2715-7091 Transisi di Ruang Kota, 9 September 2019 p-ISSN : 2716 -3709 PENERAPAN RANCANGAN PROGRAM RUANG, SIRKULASI DAN LAYOUT FURNITURE PADA TINY HOUSE Studi Kasus: 3500 Millimeters House Karya AGo Architects Anindita Chairul Nayla 1 , Rahma Purisari 2 1 Universitas Pembangunan Jaya, Program Studi Arsitektur aninditanayla224@gmail.com 2 Universitas Pembangunan Jaya, Program Studi Arsitektur Rahma.purisari@upj.ac.id Abstract : Problems with land constraints that occur in the capital always continue to grow over time. To resolve this problem came a compact living movement that would produce a residential concept in the form of tiny house. One example of a small house that has been built and inhabited in the capital city of Jakarta is 3500 Millimeters House which is here to answer all the needs of its users. This house is located in the South Jakarta area that is complete and supported by various other supporting facilities that making it easier for users to move. With a land area of 56 2 , the architects have the challenge of getting a residence that is able to accommodate all activities in it. In contrast to the form of housing in general, 3500mm Houses have various applications related to space, circulation and furniture layout programs that are interrelated with each other. Key Words: Tiny House, Compact Living, Program Ruang, Sirkulasi, Layout Furniture. Abstrak : Permasalahan keterbatasan lahan yang terjadi di Ibukota terus berkembang dari waktu ke waktu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut muncul sebuah gerakan compact living yang akan menghasilkan konsep hunian berupa tiny house. Salah satu contoh tiny house yang sudah terbangun dan dihuni di Ibukota Jakarta adalah 3500 Millimeters House yang hadir untuk menjawab segala kebutuhan dari penggunanya. Rumah ini terletak di kawasan Jakarta Selatan yang padat dan dikelilingi oleh berbagai fasilitas pendukung lainnya sehingga memudahkan pengguna beraktivitas. Dengan luasan lahan sebesar 56 m 2 , arsitek sekaligus pengguna memiliki tantangan untuk merancang hunian yang mampu mewadahi segala aktivitas di dalamnya. Berbeda dengan bentuk hunian pada umumnya, 3500mm House memiliki berbagai penerapan rancangan khusus terkait dengan program ruang, sirkulasi dan layout furniture yang saling terintegrasi satu sama lain. Kata Kunci : Tiny House, Compact Living, Program Ruang, Sirkulasi, Layout Furniture. PENDAHULUAN Permasalahan keterbatasan lahan sudah sering terjadi di kota-kota besar khususnya Jakarta. Pada segi arsitektural, permasalahan ini akan sangat memengaruhi besaran ruang bagi manusia untuk bertempat tinggal. Dalam memahami arti tempat tinggal, manusia memiliki cara yang berbeda-beda, di Indonesia rumah dianggap sebagai bangunan yang mewadahi tempat seseorang tinggal. Jika diartikan ke dalam Bahasa Inggis, rumah memiliki dua kosakata yang berbeda yaitu house dan home. Kedua kosakata tersebut dianggap sebagai tempat asal muasal seseorang hidup. House merupakan objek ruang yang menaungi aktivitas di dalamnya, sedangkan home diartikan sebagai tempat seseorang tinggal dan bermuasal (Widyarta, 2012). Dalam mewujudkan home di tengah kawasan perkotaan yang padat, beberapa tahun terakhir ini muncul sebuah gerakan berupa The Tiny Living yaitu dimana seseorang akan berdaptasi untuk bertempat tinggal di ruang yang terbatas (Mutter, 2011) Dengan memaksimalkan ruang terbatas sebagai tempat tinggal, penggunaan sumber daya, bahan baku dan pengeluaran biaya menjadi berkurang (A., Cohen, & Hubacek, 2010). Cara mempersempit tempat tinggal ini merupakan sebuah solusi baru dalam menghemat lahan perkotaan selain hunian vertikal. The tiny house movement merupakan gerakan yang berkembang dengan pemikiran “living simply in a small homes” (Yana, 2019). The Tiny Living adalah gerakan sosial yang berkembang dari sebuah komunitas kecil dengan tujuan mempersempit ruang sebagai tempat tinggal (Live, 2018). Seiring berjalannya waktu, gerakan tiny houses terus berkembang menjadi sebuah tren yang diminati oleh banyak orang di mancanegara (Mutter, 2011). Hal ini berkaitan dengan permasalahan keterbatasan lahan yang terjadi di berbagai negara, sehingga lahan yang tersedia untuk membangun menjadi terbatas. Rumah tinggal pada umumnya memiliki besaran ukuran sekitar 1000 m 2 ke atas, berbeda dengan tiny house yang memiliki batasan ukuran antara 26