Saccharomyces cereviceae as an Antibiotic Alternative (Mulyono et al.) 145 KAJIAN PENGGUNAAN PROBIOTIK Saccharomyces cereviceae SEBAGAI ALTERNATIF ADITIF ANTIBIOTIK TERHADAP KEGUNAAN PROTEIN DAN ENERGI PADA AYAM BROILER [The Use of Saccharomyces cereviceae as an Antibiotic Alternative on the Protein and Energy Utilization at Broiler] Mulyono, R. Murwani dan F. Wahyono Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Kampus Baru UNDIP Tembalang, Semarang Email : mulyono_mulyono@yahoo.co.id Received April 15, 2009; Accepted May 25, 2009 ABSTRACT An experiment was conducted to examine the effect of S. cereviceae and S. cereviceae containing zinc as alternative of antibiotic growth promoter on nutrient utilization in broiler. A total of 180 of chicks were randomly assigned into four treatments with 5 replications. The four treatments were : 1) positive control (T+) : basal diet + oxytetracycline (75 ppm); 2) negative control (T0) : basal diet ; 3) T1 : basal diet + S. cereviceae (1%); 4) T2 : basal diet + S. cereviceae containing zinc (1%). The experiment was arranged in a completely randomized design. Nutrient utilitization comprised of dry matter digestibility, protein retention, protein efficiency ratio (PER) and metabolism energy. The data were analyzed using anova and continued by the Duncan’s multiple range test. The result showed that metabolism energy was not significantly different but the dry matter digestibility, protein retention and protein efficiency ratio were significantly different (p < 0.05). This experiment demonstrated that feed additive of S. cereviceae had positive impact to utilized nutrient in broiler as well as antibiotic did. Keywords: broiler, probiotic, protein, S. cereviceae, zinc PENDAHULUAN Sejak awal tahun 1950-an antibiotik dalam dosis non therapeutic telah digunakan sebagai bahan aditif dalam ransum ternak untuk meningkatkan tampilan produksi ternak. Antibiotik sangat penting untuk keberlanjutan produksi ternak dan mengontrol infeksi pada ternak yang dapat menyerang pada manusia. Sebaliknya perhatian terhadap penggunaan antibiotik pada ternak semakin meningkat berkaitan dengan meningkatnya resistensi terhadap antibiotik tertentu (Piva dan Rossi, 2004). Akhir-akhir ini penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum telah menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuwan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak berupa resistensi terhadap antibiotik tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan pada produk daging, susu maupun telur (Samadi, 2004). Perhatian terhadap resistensi antimikrobia sebenarnya telah lama dilakukan, namun saat ini perhatian tersebut meningkat berkaitan dengan meningkatnya prevalensi infeksi mikrobia yang resisten terhadap antibiotik pada manusia (Revington, 2002). Munculnya kesadaran konsumen dan pembatasan atau larangan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dalam industri perunggasan maka probiotik telah diintroduksikan sebagai salah satu alternatif antibiotik (Kannan et al., 2005). Probiotik adalah suatu bahan pakan tambahan yang mengandung mikrobia hidup yang digunakan untuk mengatur keseimbangan mikrobia dalam saluran pencernaan. Penggunaan probiotik bukan merupakan hal yang baru dalam dunia peternakan. Fungsi zat aditif ini tidak jauh berbeda dengan fungsi utama antibiotik yaitu mengatur komposisi mikrobia dengan menekan mikroorganisme patogen dalam saluran pencernaan, meningkatkan tanggap kebal terhadap serangan penyakit dan mempunyai efek nutrisi (Revington, 2002). Penggunaan aditif pakan alternatif pengganti antibiotik berfungsi untuk mengatasi permasalahan residu pada bahan pangan hewani dan mengurangi resistensi mikroorganisme. Fungsi lainnya adalah meminimalkan respon tanggap kebal yang memproduksi beragam senyawa bersifat toksik yang secara alami dipakai untuk menanggulangi invasi mikroorganisme. Senyawa-senyawa toksik dapat pula mencederai sel-sel yang sehat, sehingga sel otot daging dapat mengalami degradasi (Murwani, 2003). Probiotik dalam ransum ternak dibagi menjadi 3