Kêtêg Jurnal Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Bunyi Vol. 23., No. 1, Mei 2023, hal. 46-58 ISSN 1412-2065, eISSN 2714-6367 https://jurnal.isi-ska.ac.id/index.php/keteg doi 10.33153/keteg.v23i1.4960 keteg@isiska.ac.id 46 GENDANG AGONG DALAM PERTUNJUKAN KUNTAU DI KABUPATEN PASER KALIMANTAN TIMUR Aris Setyoko Zamrud Whidas Pratama Pazru Rahman Program Studi Etnomusikologi FIB Universitas Mulawarman, Jalan Ki Hajar Dewantara Kampus Gunung Kelua, Samarinda 75123, Indonesia Program Studi Etnomusikologi FIB Universitas Mulawarman, Jalan Ki Hajar Dewantara Kampus Gunung Kelua, Samarinda 75123, Indonesia Mahasiswa S-1 Program Studi Etnomusikologi FIB Universitas Mulawarman, Jalan Ki Hajar Dewantara Kampus Gunung Kelua, Samarinda 75123, Indonesia aris.setyoko@fib.unmul.ac.id zamrudwhidas@fib.unmul.ac.id pazrurahman@gmail.com *Penulis Korespondensi dikirim 06-03-2023; diterima 27-04-2023; diterbitkan 04-08-2023 Abstrak Penelitian ini membahas tentang garap pada musik Gendang Agong dalam pertunjukan Kuntau di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Gendang Agong merupakan sebuah ansambel musik tradisi berdasarkan salah satu fungsinya digunakan untuk mengiringi pertunjukan Kuntau yaitu seni beladiri atau pencak silat tradisi Suku Paser. Kajian konsep garap karawitan Rahayu Supanggah yang berkaitan dengan materi garap, penggarap, sarana garap, perabot/ piranti garap, penentu garap, dan pertimbangan garap digunakan untuk menganalisisnya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan garap musik Gendang Agong memiliki konsep garap yang berlaku di keilmuan karawitan. Materi garap Gendang Agong berupa hasil transkrip notasi musik dengan penulisan notasi kepatihan berlaras slendro pathet manyura. Penggarap merupakan para musisi yang memiliki latar belakang budaya sebagai pengaruh virtuositas. Sarana garap berupa organologi instrumen musik yang berkualitas untuk menunjang sound yang maksimal. Perabot/ piranti garap yaitu tools/ perangkat lunak berupa ide musikal musisi yang terbentuk berdasar latar belakang yang dimiliki sebagai penuangan praktik musik. Penentu garap berupa rambu-rambu musisi ketika menggarap berdasarkan fungsi yaitu sebagai pengiring Kuntau. Pertimbangan garap yaitu musisi yang siap dan tanggap darurat untuk berkreativitas ketika dihadapkan venue pertunjukan yang kurang mendukung. Rangkaian enam konsep garap supanggah tersebut menjadi satu kesatuan utuh yang saling mendukung dalam membentuk garapan komposisi musik tradisi untuk membangun suasana musikal dalam mengiringi pertunjukan Kuntau Paser. Kata Kunci: konsep garap, kesenian gendang agong, musik tradisional, pertunjukan kuntau, suku paser Abstract This study discusses working on the music of Gendang Agong in the Kuntau performance in Paser Regency, East Kalimantan. Gendang Agong is a traditional musical ensemble based on one of its functions used to accompany Kuntau performances, namely the martial arts or pencak silat traditions of the Paser Tribe. The study of the concept of garap karawitan Rahayu Supanggah related to the material for working on, cultivating, working on equipment, working on furniture/equipment for garap, determining the garap, and consideration on garap is used to analyze it. This research is a qualitative research with analytical descriptive research method. The results of the study show that the garap of Gendang Agong music has a working concept that applies in karawitan scholarship. The material for Gendang Agong is in the form of a transcript of musical notation by writing kepatihan notation with slendro pathet manyura. Cultivators are musicians who have a cultural background as the influence of virtuosity. The working facilities are in the form of quality musical instrument organology to support maximum sound. Furniture/cultivation tools, namely tools/software in the form of musicians' musical ideas that are formed based on their background as the casting of musical practice. The determining factor for garap is in the form of signs for musicians when working on it based on function, namely as an accompaniment for Kuntau. The consideration of working on it is musicians who are