Pengaruh Variasi Diameter Kolom Kapur untuk Stabilisasi Lempung Lunak pada Tinjauan Nilai Indeks Pemampatan Tanah (Cc) Influence of Lime Column Diameter Variation for Soft Clay Stabilization A Riview on Compression Index (Cc) Arwan Apriyono dan Sumiyanto # Prodi Teknik Unsoed Abstract— Mostly soil in java, especially in northern area is included in soft clay soil classification. The behavior of this soil, have large value of coefficient compression (Cc), so consolidation settlement potentially occur in this soil. In this research, this problem will be handled by limes column. Limes columns were expected could reduce Cc value so consolidation settlement could be reduced too. This research was conducted through experimental in laboratory, with box that have 40 cm in diameters and this heights is 40 cm. Five various of diameters applied in this research and this affect to value of Cc would be examined. Those are 3 cm, 5 cm, 8 cm, 10 cm and 12 cm diameters. The result of this research show that limes column could reduce of Cc in significant value. The average change of Cc with limes column is 0,095 (37,63 %) if compare with Cc without limes column stabilization. The results also show that increasing of limes column diameters have no affects to the value of coefficient compression. Keywords— Soft clay soil, Coefficient compression, Limes Column PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fenomena penurunan bangunan, banyak terjadi di daerah pantai utara pulau jawa. Beberapa contohnya adalah fenomena penurunan bangunan di Pelabuhan Tanjung Emas dan Masjid Agung Semarang. Penurunan ini terjadi karena tanah di lokasi tersebut termasuk ke dalam jenis tanah lempung lunak (Apriyono, 2008). Pada suatu proyek bangunan, penanganan tanah lempung lunak biasanya dilakukan dengan mengganti tanah asli dengan tanah baru yang lebih baik. Tetapi apabila volume tanah lempung lunak sangat banyak, usaha stabilisasi tanah lebih direkomendasikan (Chan, 2008). Menurut Chan (2008), stabilisasi adalah proses modifikasi kimia pada tanah, dengan menambahkan zat additif tertentu pada kondisi kering ataupun basah, untuk meningkatkan kekuatan dan kekakuan tanah. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melakukan stabilisasi terhadap tanah lempung lunak. Bahan yang biasa digunakan sebagai zat additif untuk stabilisasi tanah lempung lunak diantaranya adalah semen dan kapur. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Apriyono (2008), diperoleh hasil bahwa kolom kapur dapat meningkatkan nilai koefisien konsolidasi (Cv) pada tanah lempung lunak sampai dengan 6 %. Marzano (2008), menghasilkan kesimpulan bahwa kekuatan tanah lempung lunak meningkat apabila ditambah dengan semen dengan kombinasi pemanasan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Hassan (2008), menghasilkan kesimpulan bahwa semen dapat meningkatkan nilai modulus elastisitas tanah lempung lunak. Dari penelitian-penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kolom kapur merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah, dalam menangani tanah lunak. Penelitian ini adalah kelanjutan dari penelitian- penelitian sebelumnya dengan menitikberatkan pada pengaruh variasi diameter kolom kapur terhadap perubahan nilai indek pemampatan (Cc) tanah. Apabila diameter optimal kolom kapur dapat diketahui, maka hal tersebut akan sangat membantu dalam desain stabilisasi tanah lempung lunak. Tujuan dari penelitian ini, adalah untuk mengamati perubahan nilai indek pemampatan (Cc) pada tanah lempung lunak, yang distabilisasi dengan menggunakan kolom kapur, pada fungsi diameter kolom kapur. Tanah lempung lunak merupakan tanah lempung yang mempunyai nilai kapasitas dukung rendah dengan nilai indek pemampatan besar. Sebagian besar lapisan tanah lunak dibentuk dari proses alamiah berupa pelapukan batuan. Tebal, luas dan stratifikasi tanah lunak, sangat tergantung dari corak topografi dan geologi yang membentuk lapisan lunak (Apriyono, 2008). Bahan utama penyususun tanah lunak adalah adalah mineral lempung yang merupakan partikel aktif dengan ukuran sangat kecil (< 2 m). Struktur mineral lempung terdapat dua blok bangunan fundamental, yaitu silika tetrahedral dan alumina oktahedral seperti dapat dilihat pada Gambar 1. Silika tetrahedral adalah struktur yang terdiri dari empat atom oksigen yang membentuk puncak tetrahedral dengan melingkupi satu atom silikon. Alumina Dinamika Rekayasa Vol. 5 No. 2 Agustus 2009 ISSN 1858-3075