Perspektif Ilmu Pendidikan - Vol. 14 Th. VII Oktober 2006 95 PENDAHULUAN Anak merupakan makhluk Allah SWT yang sejak lahir telah membawa berbagai potensi, baik potensi yang tersembunyi (hidden potency) maupun potensi yang tampak (actual potency). Potensi-potensi tersebut meliputi fisik, psikososial, bahasa, dan intelegensi. Seluruh potensi yang dimiliki anak tersebut akan berkembang apabila mendapat pengaruh dari lingkungan di mana anak tersebut berada. Untuk itu, potensi-potensi tersebut harus dikembangkan semaksimal mungkin sehingga menjadi kemampuan optimal yang dimiliki anak. Diharapkan dengan kemampuan tersebut, anak dapat menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Ditinjau dari rentang usia, para ahli pendidikan dan psikologi yang tergabung dalam National Assosiation for the Education of Young Children (NAEYC) mengelompokkan anak usia dini berdasarkan pada tingkatan perkembangan, yakni 0 – 3 tahun, 3 – 5 tahun, dan 6 – 8 tahun. Adapun menurut Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional, anak usia dini adalah anak yang berusia 0 – 6 tahun. Pada rentang usia ini, seluruh potensi anak berkembang dengan pesat sehingga masa usia dini disebut pula sebagai masa keemasan anak (golden age). Masa keemasan ini merupakan masa di mana pertumbuhan dan perkembangan yang ada menjadi fondasi kelak di kemudian hari. Pada rentangan usia ini, anak memiliki masa peka. Pada masa peka ini, anak mengalami pematangan fisik dan psikis. Dengan demikian, anak siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Artinya, masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan seluruh kemampuan fisik dan psikis. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan adanya stimulasi tepat dari lingkungan di mana anak berada. Hal ini mengingat, kebutuhan-kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang secara optimal, yaitu: (1) fisik-biologis yang meliputi: nutrisi, imunisasi, kebersihan diri dan lingkungan, kesempatan bermain, pelayanan kesehatan; (2) kasih sayang yang meliputi: menciptakan rasa aman dan nyaman, dilindungi, diperhatikan, diberi contoh, didorong, dihargai (melalui pola asuh yang demokratik); dan (3) stimulasi yang meliputi: aspek fisik, kognitif, bahasa, seni, nilai keagamaan dan moral, kemandirian, serta sosial emosional. Untuk itu, kunci utama agar aspek-aspek dalam kehidupan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal adalah dengan memberikan cinta, perhatian, rasa aman, stimulasi, kesempatan bermain, dan berlatih. Dengan memberi sesuatu untuk dilihat, didengar, dipegang, dan dirasakan, anak akan memiliki pengalaman untuk menguji kemampuannya sendiri. Uraian tersebut mengindikasikan bahwa pada saat orangtua atau pendidik berada di sekitar diri anak, mereka harus segera memberikan respon positif terhadap apa yang dilakukan dan dirasakan anak. Untuk itu, berikan lingkungan yang aman yang dapat dipergunakan anak untuk bereksplorasi. Mengingat masa usia dini merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, stimulasi-stimulasi yang diberikan hendaknya merupakan stimulasi yang mengembangkan seluruh belahan otak anak. Namun demikian, mengingat pada anak usia dini perkembangan otak kanan lebih dulu daripada otak kiri, stimulasi yang diberikan pada anak usai dini hendaknya merupakan stimulasi yang mengembangkan fungsi otak kanan terlebih dahulu. STRATEGI PENGEMBANGAN MATEMATIKA BAGI ANAK USIA DINI Iva Sarifah Opini Abstract This article discussed how mathematics instruction should be developed for early childhood education. Some instruction strategies are elaborated such as Developmentally Apropriate Practice, integrated learning, cooperative learning, student active learning, contextual learning, inquiry based learning, and co-parenting. In the implementation of the instructional strategies in this article puts forward a number of considerations. Kata kunci: strategi pemebelajaran anak usia dini, keterampilan matematika, pengembangan matematika.