89 HUBUNGAN ANTARA BODY CONDITION SCORE (BCS) DENGAN PRODUKSI SUSU SAPI PERAH FRIESIAN HOLSTEIN (FH) CORRELATION BETWEEN BODY CONDITION SCORE (BCS) WITH MILK PRODUCTION OF FRIESIAN HOLSTEIN (FH) DAIRY CATTLE Melsa Netika 1) , Roesno Darsono 2) , *Budi Utomo 3) ,Imam Mustofa 4) ,Ismudiono 5) , Tri Wahyu Suprayogi 6) 1) Student, 2) Departement of Veterinary Pathology, 3,4,5,6) Department of Veterinary Reproduction Faculty of Veterinary Medicine, Airlangga University *Corresponding author: email:budi_reprovet@yahoo.com;netikamelsa@gmail.com ABSTRACT The aim of this research was to observe the Body Condition Score (BCS) and milk production of Friesian Holstein (FH) dairy cattles. 144 of dairy cattles divided into 3 groups based on BCS 1-9 scale. The results showed that Y = 6.62 + 5.54X - 5.78X 2 . Coefficient of determination (R 2 ) of 20.6 this mean any increase in milk production by 20.6% is affected by BCS. It can be concluded that there is a correlation between Body Condition Score (BCS) and milk production. The higher BCS (BCS 7-8) the lower milk production, while in ideal BCS production (5-6) the production of milk is optimize. Keywords: Body Condition Score, Milk Production. Latar Belakang Susu juga merupakan produk hewani yang sangat digemari semua kalangan. Kon-sumsi susu masyarakat Indonesia dari 6,8 liter per tahun, pada tahun 2005 meningkat men-jadi 7,7 liter per tahun pada tahun 2008 (se-tara dengan 25 gram per hari) (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2008). Peningkatan konsumsi susu tidak diikuti dengan tersedianya pasokan susu dari dalam negeri. Industri susu di Indonesia hanya mampu memenuhi kebutuhan susu nasional sekitar 39,8% dari permintaan yang ada, dan sisa kebutuhan susu 60,2% masih dipenuhi oleh susu impor (Setyawan dkk., 2005). Pro- duksi susu di Indonesia tahun 2013 menga- lami penurunan sebesar 15%. Penurunan produksi susu tersebut salah satunya disebab- kan oleh produktivitas sapi perah yang rendah (Dirjen PPHP, 2014). Produksi susu adalah bagian dari re-produksi karena mekanisme pembentukan susu seperti mammogenesis, laktogenesis dan galaktopoesis terjadi setelah sapi induk bereproduksi. Bobot badan juga berpengaruh terhadap reproduksi ternak seperti kesuburan, kebuntingan, proses kelahiran dan laktasi (Susilorini dkk., 2007). Apabila ternak mempunyai bobot badan yang melebihi bobot badan yang ideal, ternak tersebut akan me- ngalami penurunan produktivitas dan penya- kit metabolisme lainnya, sebaliknya apabila ternak memiliki bobot badan kurang dari bobot badan ideal akan berdampak pada sistem reproduksinya (Budiawan dkk., 2015). Faktor lingkungan yang memberikan kontribusi terhadap produksi susu yang di- hasilkan sapi perah salah satunya adalah pakan (Mukhtar, 2006). Body Condition Score adalah metode pengukuran terhadap keefektifan sistem pemberian pakan pada sapi perah, tujuannya adalah untuk mengetahui pencapaian standar kecukupan cadangan lemak tubuh yang akan mempengaruhi efi- siensi reproduksi, sedangkan efisiensi re- produksi sapi perah akan berpengaruh terha- dap produksi susu (Sarjowardojo dan Sarwiyono., 2013). Produksi susu pada Body Condition Score (BCS) yang ideal dalam hasil pene-litiannya adalah kurang lebih 20,16 liter per hari yang menggunakan sistem penilaian BCS 1 sampai dengan 5 (Komala., 2015). Kondisi BCS yang ideal menghasilkan produksi susu yang optimal, namun kenyataan yang ada di peternakan sapi perah terdapat BCS yang kurang dari ideal dan melebihi ideal, sehingga untuk memperoleh tingkat produksi susu yang optimal diperlukan penilain BCS yang sesuai. Kuantitas dan kualitas susu yang ren- dah pada sapi perah diakibatkan pemberian Ovozoa Vol. 8, No. 2, Oktober 2019 ISSN: 2302-6464 89