Arsitektur di Indonesia Dalam Perkembangan Jaman, Sebuah Gagasan untuk Jati diri Arsitektur di Indonesia. Maria I Hidayatun 1 , Josef Prijotomo 2 dan Murni Rachmawati 3 Program Studi Arsitektur Univ.Kristen Petra & Institut Teknologi Sepuluh Nopember 1, Institut Teknologi Sepuluh Nopember 2&3 Jln Siwalankerto 121-131, Surabaya 60236, Kampus ITS Sukolilo,Surabaya 60111 hidayatun.maria75@gmail.com , jospri@indo.net.id , murnitoni@yahoo.co.id Abstrak Indonesia sebuah pengertian yang mengandung pesan dan makna baik politik maupun budaya. Dalam wacana arsitektur, Indonesia memberikan sebuah imaginasi yang menggambarkan tentang keberagaman sekaligus kesatuan. Sejalan dengan perkembangan jaman, arsitektur Indonesia juga mengalami perkembangan pasang surut, yang secara faktual hampir kehilangan jatidirinya. Studi ini mencoba menemukan konsep arsitektur Indonesia masa kini yang di dasari oleh pandangan hidup masyarakat Indonesia, sebagai upaya untuk menemukan kembali jati diri arsitektur Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan data- data dokumen sebagai data primer yang berupa tulisan maupun foto yang sudah terdokumentasikan dalam berbagai publikasi ilmiah. Metode yang digunakan untuk melakukan analisis adalah metode diskriptif, dengan retorika sebagai teknik analisisnya berdasarkan teori kritis dari Paul Ricoeur untuk melakukan interpretasi dari teks atau dokumen yang dipakai sebagi sumber data. Hasil dari penelitian ini adalah suatu epistemologi tentang jati diri arsitektur Indonesia yang dapat dipakai sebagai acuan teoritik untuk kajian-kajian tentang arsitektur Indonesia dalam menghadapi tantangan/perkembangan jaman. Kata kunci: teori kritis Riceour, diskriptif kualitatif, retorika, jati diri. 1. Pendahuluan Isu terpopuler saat ini adalah tentang globalisasi yang terkait dengan universalisasi, internasionalisasi, liberisasi dan westernisasi (Scolte, 2005). Keadaan ini tidak luput juga mempengaruhi dalam perkembangan arsitektur, baik secara Internasioanl maupun secara nasional di Indonesia. Seiring dengan keadaan tersebut , dunia arsitektur juga merasakan dampaknya yakni bahwa globalisasi mengakibatkan hilangnya hal-hal khusus dan mengubahnya menjadi sebuah tatanan kehidupan yang menyingkirkan batas-batas geografis. Keadaan ini kemudian pada akhir abad 20 di belahan bumi bagian Barat muncul berbagai macam cara dan gerakkan yang bertujuan untuk memperlihatkan kembali keunikan dan kekhasan masing-masing tempat. Dua hal yang penting untuk diperhatikan ialah: pertama, munculnya isu untuk kembali pada lingkungan agar dapat hidup lebih nyaman (Frick, 1996); kedua, munculnya gerakan regionalisme dalam rangka ingin memberikan kembali potensi dan identitas lokal yang hilang karena arus modernisasi (Jenks, 1977). Di Indonesia hal ini juga menjadi bahan diskusi yang cukup panjang dan menarik. Pangarsa (2006) mengutarakan gagasannya melalui tulisannya dalam Merah Putih Arsitektur Nusantara yang pada intinya ingin mengembalikan fitrah ibu pertiwi yang hilang karena orientasi yang Eurocentris. Demikian juga Widyarta (2007) mempunyai keresahan terhadap proses berarsitektur dan karya arsitektur di Indonesia, ia menyodorkan sebuah proses berarsitektur sebagai proses pelupaan dan pengingatan (forgetting and remembering), hal ini menurut