Jurnal Mekanika dan Sistem Termal, Vol. 2(1), April 2017 :6-9
© JMST - ISSN : 2527-3841 ; e-ISSN : 2527-4910
Jurnal Mekanika dan Sistem Termal (JMST)
Journal homepage: http://e-journal.janabadra.ac.id/index.php/JMST
Original Article
Pengaruh Tipe Mixer Ejektor dan Sudu Non-Twisted Naca
6412 Terhadap Daya Listrik Turbin Angin Poros Horizontal
Wisnu Aristyawan*, Danar Susilo Wijayanto, Nugroho Agung Pambudi
1
Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Jl. Ahmad Yani 200A Pabelan,
Surakarta
*Corresponding author:
E-mail: aris.wisnu@rocketmail.com
Abstract – The purpose of this study was to determine the effect of mixer ejector and a non-twisted blade airfoil NACA 6412 toward power
output generated in the horizontal axis wind turbine (HAWT). The type of blade used in this experiment is a blunt, rectangular and taper.
There are three artificial low wind-speed applied at 2.5 m / s, 3.5 m / s and 4.5 m/s. All the experimental data is carried out by several
instruments such as anemometer, tachometer, multitester and recorded by a data logger. The results showed that the blunt wind turbine blade
produces the highest power output at 0.43 W at a wind speed of 4.5 m/s with a rotor rotational speed of 183.4 RPM. While, the lowest power
output produced by taper blade power output at of 0.07 W at 87.9 rpm at a wind speed of 2.5 m/s. In the experimental of additional of the
mixer ejector, diffuser type produces the highest power output at 0.83 W at a wind speed of 4.5 m/s. The power output increased by 93 %
compared to an original wind turbine without the addition of mixer ejector at 0.43 W.
Keywords – Wind turbine; Mixer ejector; NACA 6412; Power output; Horizontal.
1. Pendahuluan
Listrik merupakan kebutuhan esensial bagi setiap
aktivitas kehidupan manusia. Kebutuhan ini terus
meningkat sehingga penyediaannya secara berkelanjutan
harus terus ditingkatkan. Pada kenyataanya, sebagian besar
penyediaan energi listrik dipasok oleh energi fosil seperti
batubara, gas dan minyak bumi yang eksistensinya cepat
atau lambat akan habis dalam beberapa dekade mendatang.
Menurut data BPPT dan dewan energi nasional, batu bara
dan gas memiliki bauran pada sistem energi nasional
masing-masing sebesar 43% (19,1 GW) dan 27% (12 GW),
diikuti bahan bakar minyak dengan bauran sekitar 18% (8,1
GW). Energi baru dan terbaharukan seperti panas bumi
memiliki bauran sekitar 5 % sementara itu pembangkit
hydro pada angka 9% (4,2 GW) (BPPT, 2015).
Energi dari bahan bakar fosil tidak dapat diperbaharui
sehingga menciptakan ketahanan energi nasional yang
lemah. Energi fosil juga menimbulkan bahaya emisi karbon
yang lebih tinggi seperti gas karbon dioksida (CO2). Gas ini
akan terakumulasi di atsmosfer, terjebak sebagai gas rumah
kaca dan menimbulkan efek pemanasan global. Kandungan
pengotor dalam bahan bakar fosil dalam proses pembakaran
yang tidak sempurna juga menghasilkan zat sisa yang
mengganggu keseimbangan lingkungan dan membahayakan
kelangsungan hidup makhluk hidup. Disamping itu,
penambangan material bahan bakar ini seperti minyak, gas
dan batubara seringkali menyebabkan kerusakan
lingkungan di sekitar area pertambangan.
Untuk menghindari berbagai macam kerugian akibat
dari penggunaan energi fosil, penggunaan sumber energi
baru dan terbaharukan merupakan sebuah keharusan untuk
meningkatkan ketahanan energi nasional di masa depan.
Padahal Indonesia dikaruniai dengan berbagai jenis potensi
sumber daya energi yang melimpah seperti panas bumi,
angin dan biomassa. Indonesia merupakan negara
kepulauan yang memiliki sekitar 17.500 pulau dengan garis