Trad. Med. J., January 2014 Vol. 19(1), p 43-48 ISSN : 1410-5918 Traditional Medicine Journal, 19(1), 2014 43 Submitted : 02-03-2014 Revised : 12-03-2014 Accepted : 21-04-2014 THE COMPARISON OF EXTRACTION METHOD AND SOLVENT VARIATION ON YIELD AND ANTIOXIDANT ACTIVITY OF Brassica oleracea L. var. capitata f. rubra EXTRACT PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI DAN VARIASI PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KUBIS UNGU (Brassica oleracea L. var. capitata f. rubra) Rima Yulia Senja * , Elisa Issusilaningtyas, Akhmad Kharis Nugroho and Erna Prawita Setyowati Faculty of Pharmacy Universitas Gadjah Mada ABSTRACT Red Cabbage (Brassica oleracea L. Var. Capitata f. rubra) has a high anthocyanin content therefore it can be potential as a natural antioxidant. In this research, the antioxidant activity of the red cabbage extract was evaluated quantitatively with a spectroscopy method using DPPH reagent to obtain the value of IC50 . This research was divided into 2 stages. First, the influence of solvent variant to the extract yield of red cabbage powder and the maximum wavelength (λ) using a maceration protocol. The kind of solvent (70%, 80%, 95%, and 96% of ethanol) with addition 3% of citric acid. Second, the influence of extraction methods in neutral condition to the antioxidant activity. The results show the red cabbage powder maceration with 96% ethanol solvent (acid condition) exhibits the highest yield. The fresh red cabbage soxhletation with 96% ethanol (neutral condition) exhibits 288,5 nm maximum wavelength (λ) and 168,78 mg/mL of IC50 value. Key words : Red cabbage extract, extraction method, solvent ABSTRAK Kubis ungu (Brassica oleracea L. var. capitata f. rubra) memiliki kandungan antosianin tinggi sehingga potensial sebagai antioksidan alami. Dalam penelitian ini, aktivitas antioksidan ekstrak kubis ungu dievaluasi secara kuantitatif dengan metode spekstroskopi menggunakan pereaksi DPPH (1,1-difenil-2- pikrilhidrazil) untuk mendapatkan nilai IC50. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap. Pertama, perbandingan variasi pelarut terhadap rendemen ekstrak serbuk kubis ungu dan panjang gelombang (λ) maksimum, menggunakan ekstraksi secara maserasi. Jenis pelarut yang digunakan (etanol 70%, 80%,95%, 96%) yang ditambahkan asam sitrat 3%. Kedua, perbandingan variasi metode ekstraksi dalam suasana netral terhadap aktivitas antioksidan secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan maserasi serbuk kubis ungu dengan pelarut etanol 96% (suasana asam) menghasilkan rendemen tertinggi. Soxhletasi kubis ungu segar dengan pelarut etanol 96% (suasana netral) memiliki (λ) maksimum 288,5 nm dan IC50 sebesar 168,78 µg/mL. Kata kunci : ekstrak kubis ungu, metode ekstraksi, pelarut. PENDAHULUAN Penuaan adalah suatu proses biologis kompleks sebagai hasil dari penuaan intrinsik (dari dalam tubuh seperti genetik) dan penuaan ekstrinsik (dari lingkungan). Faktor ekstrinsik yang paling berpengaruh dalam proses penuaan adalah radikal bebas. Radikal bebas dapat memberikan efek negatif yaitu mempercepat terjadinya penuaan dini akibat terjadinya stress oksidatif yang berperan penting dalam proses penuaan (Mackiewicz dan Rimkevicius, 2008). *Corresponding author: Rima Yulia Senja Email: rimayulia_farmasi@yahoo.com Antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang mampu menunda, memperlambat atau menghambat reaksi oksidasi (Pokorny dkk., 2001). Antioksidan merupakan kelompok yang sangat potensial, memiliki kemampuan mencegah terjadinya dan mengurangi tingkat kerusakan kulit. Berdasarkan sumber perolehannya ada 2 macam antioksidan, yaitu antioksidan alami dan antioksidan buatan (sintetik) (Dalimartha dan Soedibyo, 1999). Tubuh manusia tidak mempunyai cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih maka tubuh membutuhkan antioksidan