Hayati, Maret 2002, hlm. 24-26 Vol. 9, No. 1 ISSN 0854-8587 CATATAN PENELITIAN Identifikasi Isolat Clostridium botulinum Asal Bogor Identification of Clostridium botulinum Isolates from Bogor ANJA MERYANDINI Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144, Tel. +62-251-633507, Fax. +62-251-345011 Diterima 3 Agustus 2001/Disetujui 8 September 2001 Clostridium botulinum is one of microorganisms that could cause serious food poisoning. Food contaminated with C. botulinum could not always be detected easily, because not all of C. botulinum strains are proteolytic and produce gas. From 31 soil samples we could identify 15 C. botulinum isolates through a series physiological characters, i.e. Gram stain, haemo- lytic, glucose and lactose fermentation tests, the presence of lecithinase, lipase and gelatin hidrolysis. One isolate from Bogor was shown to produce serotype D toxin and could degrade synaptobrevin2 (Syb2). ___________________________________________________________________________ Keracunan makanan sering terjadi di Indonesia. Keracunan tersebut dapat disebabkan oleh adanya organisme penyebab keracunan makanan seperti misalnya Clostridium botulinum. Bakteri ini hidup di tanah, karenanya mudah sekali mengkontaminasi bahan makanan. C. botulinum dapat mengkontaminasi hampir semua jenis makanan, baik yang berkadar karbohidrat tinggi maupun yang berkadar protein tinggi (MacDonald et al. 1985). Melalui penampakannya, makanan yang terkontaminasi C. botulinum sulit diketahui karena toksin dapat bersifat proteolitik dan nonproteolitik (Carlin & Peck 1995). Clostridium botulinum menghasilkan spora yang tahan terhadap panas dan neurotoksin. Bakteri ini mempunyai morfologi koloni beragam, bersifat gram positif berbentuk batang dengan spora di daerah subterminal. Karakter yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bakteri ini ialah kemampuan hemolitik (positif), pembentukan lesitinase (positif), pembentukan lipase (positif), hidrolisis gelatin (positif), fermentasi glukosa (positif), fermentasi laktosa (negatif). Neurotoksin yang dihasilkan galur ini terbagi dalam tujuh serotipe yang penyebarannya bersifat geografi spesifik (Hobbs et al. 1971, Levett 1991). Di Amerika Serikat C. botulinum tipe A umumnya terdapat di tanah yang bersifat netral hingga basa (sekitar pH 7.5) dengan kondisi bahan organik rendah, sedangkan tipe B sering dijumpai pada tanah yang sedikit asam (pH 6.3) dengan kandungan bahan organik tinggi. Tipe A dan B itu jarang ditemui di perairan, namun di Inggris C. botulinum lebih banyak ditemukan di perairan dengan tipe B sebagai tipe yang dominan. Di Asia C. botulinum tipe A dan B tersebar luas. Dari sampel tanah daerah subtropik dan tropik sering ditemukan C. botulinum tipe A dan B. Daerah yang berpenduduk merupakan daerah yang lebih tinggi terkontaminasi bakteri ini dibandingkan daerah tidak berpenduduk. Sebanyak 12 sampel tanah dari Pulau Jawa yang positif mengandung C. botulinum, sebanyak 73% mengandung toksin botulin tipe C dan D (Popoff 1995). Di Amerika Utara penyebab botulismus umumnya ialah toksin tipe A, di Finlandia dan Alaska tipe E, sedangkan di Eropa Utara dan Tengah ialah toksin tipe B (Vaughan et al. 1979, Hielm et al. 1988, Wainwright et al. 1988). Kerja ketujuh serotipe toksin ini ialah menghambat pelepasan neurotransmiter. Dalam melaksanakan fungsinya ketujuh serotipe ini memiliki substrat yang berbeda (Ta- bel 1). Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis C. botulinum yang ada di daerah Jabotabek. Isolasi bakteri Clostridium dari sampel tanah dilakukan dengan menumbuhkannya pada media Robertson’s Cooked Meat Medium (RCMM) pH 8.5 dengan penambahan antibiotik polimiksin sulfat 1%. Media ini terdiri atas protease pepton 1%, NaCl 0.5%, sukrosa 1%, ekstrak khamir 2%, seujung sudip CaCO 3, dan 10 g daging. Sebelum digunakan, media selalu dipanaskan dahulu dalam air mendidih selama 10 menit untuk mengeluarkan oksigen dari media. Inkubasi dilakukan pada suhu 37 0 C selama 3 hingga 4 hari. Kemudian isolat dipindahkan ke media agar-agar darah yang terdiri atas blood agar base 4% dan darah domba 5% yang telah mengalami defibrinasi (Hobbs et al. 1971). Koloni yang dicurigai sebagai C. botulinum diuji beberapa karakter fisiologinya seperti pembentukan lesitinase dan lipase, fermentasi glukosa dan laktosa, pewarnaan Gram, dan degradasi gelatin. Tabel 1. Lokasi gen dan substrat toksin botulin. Toksin Lokasi gen Substrat Pustaka BoNT/A BoNT/B BoNT/C1 BoNT/D BoNT/E BoNT/F BoNT/G kromosom kromosom bakteriofag bakteriofag kromosom kromosom plasmid SNAP-25 Synaptobrevin 2 Syntaxin, SNAP-25 Synaptobrevin 2 SNAP-25 Synaptobrevin 2 Synaptobrevin 2 Binz et al. 1994 Schiavo et al. 1992 Schiavo et al. 1995 Hayashi et al. 1994 Binz et al. 1994 Hayashi et al. 1994 Schiavo et al. 1994