JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 9, No. 2 (2020), 2337-3520 (2301-928X Print) C13 Abstrak—Telah dilakukan kajian geokimia organik melalui analisa biomarka terhadap sampel minyak pada sumur tua Blok Cepu, Formasi Wonocolo, Jawa Timur untuk mengetahui lingkungan pengendapan kuno minyak tersebut. Analisa biomarka dilakukan dengan metode ekstraksi, fraksinasi, dan identifikasi struktur menggunakan instrumen Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (KG-SM). Hasil identifikasi biomarka menunjukkan adanya biomarka pristana (Pr) dan fitana (Ph) dengan rasio Pr/Ph 3.25 mengindikasikan lingkungan pengendapan oksidatif. Keberadaan senyawa 1,2,7- dan 1,2,5- TMN, senyawa 4,4,8,8,9-pentametil decalin dan 4,4,8,9,9- pentametil decalin, biomarka 4-metildibenzofuran, serta biomarka triterpenoid pentasiklik dengan rasio Ts/Tm+Ts sebesar 0.34 juga mendukung indikator lingkungan pengendapan minyak mentah sumur tua Blok Cepu, Formasi Wonocolo yang bersifat oksidatif. Analisa biomarka yang telah dilakukan menunjukkan sampel minyak Blok Cepu, Formasi Wonocolo memiliki asal usul lingkungan pengendapan oksik. Kata Kunci—Alifatik, Aromatik, Biomarka, KG-SM, Minyak Cepu. I. PENDAHULUAN NDONESIA merupakan salah satu negara dengan penghasil minyak bumi dan gas. Salah satu daerah utama produksi minyak bumi yang terletak pada zona Rembang, cekungan Jawa Timur Utara adalah Blok Cepu [1]. Produksi minyak bumi di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun sekitar 4% per tahunnya. Kemampuan produksi minyak bumi yang mengalami penurunan tersebut diakibatkan oleh sumur yang sudah tua dan sumber daya yang terletak di daerah frontier. Namun, konsumsi BBM terus meningkat tiap tahunnya terutama pada bidang transportasi dengan persentase paling besar, dan diikuti oleh bidang industri. Penurunan produksi minyak yang tidak sebanding dengan kenaikan konsumsi sehingga menyebabkan Indonesia masih melakukan impor minyak bumi [2-3]. Pemerintah telah menyiapkan berbagai kebijakan dan program untuk meningkatkan eksplorasi minyak bumi agar cadangan minyak bumi nasional bertambah. Salah satu cara dalam meningkatkan produksi minyak bumi adalah eksploitasi minyak bumi secara besar-besaran, namun hal tersebut dapat mengurangi ketersediaan sumber daya minyak bumi dalam negeri. Solusi lain untuk meningkatkan produksi minyak bumi yaitu dengan rektivasi sumur-sumur tua yang telah ditinggalkan dan sudah tidak produktif lagi. Kegiatan eksplorasi minyak bumi dan reaktivasi sumur tua membutuhkan informasi geokimia organik selain aspek geologi dan geofisika. Informasi geokimia dapat digunakan sebagai gambaran mengenai hubungan lingkungan pengendapan dengan karbon organik yang berdasarkan distribusi senyawa penanda biologisnya [4- 7]. Penelitian-penelitian sebelumnya yang juga melibatkan informasi geokimia dalam proses reaktivasi maupun eksplorasi sumur minyak telah dilaporkan oleh Hakimi dkk (2011) pada Cekungan Masila, Eastern Yemen [8]. Beberapa biomarka hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik dari sedimen geologi yang telah dilaporkan oleh peneliti sebelumnya, dapat memberikan informasi mengenai lingkungan pengendapan sampel geologi [9-10]. Penentuan indikator lingkungan pengendapan telah ditunjukkan dengan rasio pristana/fitana (Pr/Ph) dalam biomarka n-alkana dan beberapa biomarka aromatik seperti trimetilnaftalena dan metildibenzofuran [6], [11-12]. Analisa biomarka dalam penelitian ini sangat diharapkan dalam kegiatan eksplorasi minyak mentah maupun reaktivasi sumur tua yang dianggap sudah tidak produktif. Salah satu sumur tua minyak mentah yang diteliti berada di lokasi Blok Cepu, Formasi Wonocolo, Jawa Timur. Informasi yang didapatkan dari penelitian ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan proses produksi dan reaktivasi sumur tua di lokasi Blok Cepu, Formasi Wonocolo, Jawa Timur. II. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca analitik, kolom kromatografi, pipet pasteur, erlenmeyer, gelas beker, kromatografi lapis tipis (KLT), botol vial, gelas ukur, labu alas bulat soxhlet, labu evaporator, seperangkat alat soxhlet, corong pisah, lampu UV 254 nm, seperangkat alat rotari evaporator vakum Buchi R-210, dan seperangkat instrumentasi Kromatografi Gas-Spektrometer Massa (KG- SM) Agilent GCMSD5975C. Sampel minyak mentah yang digunakan pada penelitian ini berasal dari sumur tua Blok Cepu dengan kode W110 pada kedalaman 400 meter yang terletak dalam formasi Wonocolo. Bahan-bahan yang digunakan yaitu silika gel GF 254 ukuran 60 mesh untuk kromatografi kolom, kapas, seasand, alumunium foil, serbuk Cu, akuades, kertas saring, batu didih, gas nitrogen, HCl, beberapa pelarut organik meliputi n-heksana, diklorometana, metanol, dan aseton. B. Ekstraksi Minyak Mentah Blok Cepu Sebanyak 50 mL sampel minyak Cepu dimasukkan ke dalam corong pisah untuk dilakukan pemisahan antara lapisan minyak dan air. Campuran dikocok dan dibiarkan beberapa saat hingga terbentuk dua (2) lapisan. Kedua lapisan Karakter Geokimia Organik Minyak Mentah Sumur Tua Blok Cepu, Formasi Wonocolo, Jawa Timur Awalia Wardatil Firdaus, Yulfi Zetra, dan R.Y Perry Burhan Departemen Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: yzetra@gmail.com I brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS): Publikasi Ilmiah Online Mahasiswa ITS...