Tanggapan Tujuh Kultivar Bawang Merah •....•... (Sri Wiyatiningsih, Arit W. dan Endang T.P) 7 TANGGAPAN TUJUH KULTIVAR BAWANG MERAH TERHADAP INFEKSI Fusarium oxysporum f.sp. cepae PENYEBAB PENYAKIT MOLER Sri Wiyatiningsih l ), Arif Wibowo 2 ) dan Endang Triwahyu Pi). ABSTRACT One of the important shallot diseases causing great loss up to 50% in several main shallot fields is moler caused by Fusarium oxysporum f.sp. cepae. Cultivar which resistant to F oxysporum f.sp. cepae and produce lots of bulb still unkwon, so that research as effort to find resistant cultivar is necessary. The pathogenicity test result shows the faster incubation period of moler disease and the highest average intensity of moler disease happens on Kuning cultivar (from Brebes). Tiron cultivar does not shows moler disease symptom until harvest. Kuning cultivar shows very susceptible response, Tiron cultivar shows resintant response. Key words: Moler disease, F oxysporumjsp. cepae, shallot cultivar response PENDAHULUAN· Bawang merah merupakan komoditas unggulan dengan prospek permintaan pasar yang cukup baik, sehingga memegang peranan penting dalam perdagangan dan mendapat prioritas pengembangan (Anonim, 2007). Kendala utama dalam peningkatan produksi bawang merah adalah adanya gangguan hama dan penyakit baik di · pertanaman maupun di gudang. Salah satu penyakit penting pada bawang merah yang akhir-akhir ini menimbulkan banyak kerugian di beberapa sentra produksi adalah penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum, f.sp. cepae. Menurut laporan petani penyakit moler telah menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil umbi lapis hingga 50% (Wiyatiningsih, 2003). F. oxysporum f.sp. cepae diketahui sebagai patogen terbawa tanah yang sukar dikendalikan (Joffe, 1986; Hadisoeganda et al., 1995; Havey, 1995). Penyakit-penyakit tanaman yang disebabkan oleh patogen terbawa tanah dan serangan patogennya melalui akar menimbulkan tantangan dalam pengelolaan penyakit yang efektif, karena inokulum awal sudah ada di dalam tanah sebelum awal pertumbuhan tanaman inang atau dapat juga oleh tanaman inang (Campbell & Neher, 1996). Upaya pengendalian penyakit terbawa tanah melalui sanitasi, pergiliran tanaman, dan penggunaan fungisida sulit dilaksanakan pad a kondisi lapang di daerah endemik, sehingg-a alternatif pengendalian yang diharapk-an dapat dikembangkan adalah penggunaan kultivar tahan (Korlina & Baswarsiati, 1995). Dalam prpduksi bawang merah dan hubungannya dengan ketahanan terhadap penyakit moler, masih banyak petani yang melakukan pemilihan hanya berdasar tingginya produksi. Hal ini dise1iabkan karena kultivar yang tahan terhadap F. oxysporum fsp. cepae penyebab penYa.!?t moler dan menghasilkan umbi lapis yang relatif tinggi belum diketahui (Wiyatiningsih, 2007). Berdasarkan hal tersebut . di atas, maka penelitian untuk tanggapan 7 kultivar bawang merah ' terhadap F. oxysporum f.sp. cepae penyebab penyakit moler sangat diperlukan, sebagai informasi sumber ketahanan dalam upaya perakitan kliltiyar bawang merah tahan terhadap penyakit moler, guna meningkatkan produktivitas bawang merah. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dengan melakukan uji patogenesitas, untuk mengetahui respon 7 kultivar bawang merah yang diperoleh dari tiga daerah sentra produksi terhadap kemampuan Fusarium oxysporum f.sp. cepae menginfeksi dan menyebabkan penyakit moler. Uji dilakukan dengan cara menanam benih bawang merah 1) Stat Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Jawa Timur 2) Alumni Fakultas Pertanian, UPN Jawa Timur