DISKURSUS BATJAAN LIAR: KAJIAN TERHADAP DUA SASTRAWAN LIAR DALAM PERIODE 1900-1933 Yoseph Yapi Taum Dosen Program Studi Satra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma Alamat korespondensi: Jl. Affandi Mrican Tromol Pos 29 Yogyakarta Email: yoseph1612@yahoo.com ABSTRACT Batjaan Liar or devil literature (my translation, YYT) is a term using by Dutch colonial officers to stigmatize works on journalism and literature produced by people of nationalist movement. Those works judged as devil literature because of the power to threatening Dutch colonial status quo. However, in Indonesian canon literary history, those who perceived as devil writers, such as Tirto Adhi Suryo and Mas Marco Kartodikromo, never mentioned. This research aims at exploring the discourse of devil literature to get better understanding on devil writer’s position and to promote appreciation into their works in the light of new Indonesian literary history. This research also aims at discussing reasons why devil literature discourse could not be changed in changing regime. The main objective of this reseacrh is to compose a new discourse on rethinking and rewriting of Indonesian new literary history. Key words: batjaan liar, diskursus, kaum pergerakan, komunis, sejarah sastra. 1. PENDAHULUAN Dalam sejarah sastra Indonesia formal, kurun waktu tahun 1900 – 1933 dikenal sebagai periode atau angkatan Balai Pustaka. Angkatan Balai Pustaka merupakan sekelompok sastrawan, penyair dan penulis prosa yang menerbitkan karyanya melalui Balai Pustaka. Balai Pustaka adalah sebuah lembaga resmi yang dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1908 yang bernama ‘Comissie voor de Volkslectuur’ atau Komisi Bacaan Rakyat. Lembaga ini dibangun sebagai konsekuensi politik etis yang mendirikan sekolah bagi kaum Bumi Putera. Di luar angkatan resmi yang didirikan dan dibina oleh pemerintahan kolonial itu, sesungguhnya terdapat sekelompok sastrawan yang sangat aktif pula menulis karya-karya sastra. Mereka tidak mempublikasikan karya-karyanya melalui penerbit Balai Pustaka. Tahun 1924, organisasi PKI mendirikan Comissie Batjaan Hoofdbestuur yang menerbitkan dan menyebarluaskan “literatuur socialisme”—sebuah istilah yang pertama kali digunakan oleh Semaoen. Dalam artikelnya,”Klub Kominis!”, Semaoen menjelaskan bahwa “socialisme jalah ilmoe mengatoer pergaoelan idoep, soepaja dalem pergaoelan idoep itoe orang-orangnja djangan ada jang memeres satoe sama lain” (Taum, 2011: 191). Kaum penguasa kolonial menyebut tulisan mereka sebagai ‘bacaan liar’. Mereka biasanya merupakan orang-orang pergerakan. Orang-orang pergerakan ini jelas-jelas menjadikan media sastra sebagai sarana perjuangan politiknya, yaitu untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia (Razif, 2010). Kekuasaan kolonial memberi pandangan dan makna untuk “bacaan liar” sebagai bacaan yang mengagitasi rakyat untuk melakukan “pemberontakan,” sehingga penulisnya pun diberi cap dan mendapat stigma sebagai “pengarang liar.” Setelah bangsa ini merdeka, diskursus tentang batjaan dan pengarang liar tetap bertahan terhadap perubahan. Para penulis sejarah sastra Indonesia modern seperti H. B. Jassin (1953), Nugroho Notosusanto (1963), Ajib Rosidi (1973), Rachmat Djoko Pradopo (1995), Jacob Sumardjo (1992), dan Yudiono KS (2007) tidak menyinggung kehadiran “Pengarang dan Batjaan Liar” pada periode 1900-1933. Studi ini bermaksud mengidentifikasi, menginventarisasi, dan melakukan kajian terhadap pengarang dan batjaan liar. Studi ini akan terfokus pada dokumentasi hasil-hasil karya sastra, prosa maupun 130