PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1, Nomor 7, Oktober 2015 ISSN: 2407-8050 Halaman: 1639-1643 DOI: 10.13057/psnmbi/m010717 Ekologi sosial pilang (Acacia leucophloea) di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur Social ecology of pilang (Acacia leucophloea) on Timor Tengah Selatan District, East Nusa Tenggara GERSON N. NJURUMANA Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Kupang. Jl. Alfons Nisnoni (Untung Surapati) No. 7 Airnona, Kupang 85115, Nusa Tenggara Timur. Tel. +62-380- 823357, Fax. +62-380-831068, email: njurumana@gmail.com Manuskrip diterima: 9 Juni2015. Revisi disetujui: 13 Agustus 2015. Njurumana GN. 2015. Ekologi sosial pilang (Acacia leucophloea) di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1639-1643. Penelitian terhadap ekologi-sosial pilang (Acacia leucophloea) (Roxb.) Willd. bertujuan untuk memahami sebaran ekologi pilang dan pemanfaatannya oleh masyarakat di Pulau Timor. Penelitian dilakukan pada 16 desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Metode survei, observasi dan wawancara digunakan, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif-kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran ekologi pilang dominan pada mintakat 250-750 m dpl, terutama pada tanah-tanah kambisol. Pemanfaatan pilang terutama sebagai atribut sosial-budaya untuk pengobatan tradisional, kayu bangunan, pakan ternak, kayu bakar dan kayu pagar. Disimpulkan bahwa pilang memiliki kelayakan secara ekologi dan sosial-budaya untuk dikembangkan dalam skala luas. Kata kunci: Pilang, sebaran ekologi, pemanfaatan. Njurumana GN. 2015. Social ecology of pilang (Acacia leucophloea) on Timor Tengah Selatan District, East Nusa Tenggara. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1: 1639-1643. Research on social-ecology of Pilang (Acacia leucophloea) (Roxb.) Willd. aimed to understand the ecology distribution and its utilization by the community on Timor island. Research conducted on 16 villages in Timor Tengah Selatan District, East Nusa Tenggara. The survey, interview, and field observation are used, and qualitative and descriptive for data analysis. The result of the research shows the ecology distribution of Pilang is dominant at elevation 250-750 m asl., especially on kambisol soil. The utilization of Pilang as a social-culture attribute for traditional medicine, timber wood, fuel wood and fence material. It is concluded that the feasibility of Pilang to develop in wider scale based on ecology and social aspect. Keywords: Pilang, ecological distribution, utilization PENDAHULUAN Kondisi iklim di Kabupaten Timor Tengah Selatan (Kabupaten TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur dicirikan oleh terbatasnya cutah hujan yang menyebabkan tidak banyak potensi sumberdaya hutan, terutama jenis kayu berkualitas tinggi untuk berbagai penggunaannya, sedangkan permintaan masyarakat cenderung meningkat. Beberapa sumber kayu lokal di daerah ini adalah kayu rimba campuran olahan, jati olahan (Tectona grandis), kayu merah (Pterocarpus indicus) dan mahoni (Swietenia machrophylla). Produksi kayu lokal yang rendah menyebabkan kebutuhan kayu dipenuhi dari luar daerah dengan harga relatif mahal, sehingga akses sebagian besar masyarakat terhadap kayu rendah. Kondisi tersebut mendorong masyarakat memanfaatkan bahan baku dari jenis-jenis kayu setempat, salah satunya adalah pilang (Acacia leucophloea)(Roxb.) Willd. (Fabaceae). Pilang atau dalam istilah lokal kabesa merupakan salah satu jenis pohon yang tumbuh menyebar luas pada daerah beriklim kering, bahkan telah terdomestikasi karena dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan konstruksi bangunan dan kayu bakar. Potensi penggunaan lainnya untuk kesehatan kulit, termogenik, mengatasi pendarahan, mencegah infeksi, anthelmintik, mengobati luka, penawar sakit, mengobati batuk, antipiretik, penangkal bisa ular, karies gigi dan stomatitis (Saxena dan Srivastava 1986; Devra et al. 2005; Khare 2007; Rang et al. 2007; Anjaneyulu et al. 2010; Patil dan Aher 2010), membantu sistem pencernaan (Imran et al. 2011; Jhade et al. 2012), memiliki kandungan nutrisi yang baik (Vijayakumari et al. 1994; Devra et al. 2005), daunnya digunakan sebagai pakan ternak (Mapiye et al. 2011a; Mapiye et al. 2011b) serta jasa ekologis untuk perbaikan kesuburan lahan (Chidumayo 2008). Keanekaragaman manfaat pilang tersebut mendorong masyarakat melakukan eksploitasi. Eksploitasi yang melebihi regenerasi alam, dan terbatasnya aktivitas budidaya menyebabkan penurunan populasinya di alam. Perhatian pemerintah daerah terhadap budidaya pilang