Vol. X, No. 1 Juni 2017 27 JALAN SEBAGAI KORIDOR KOTA ATAU JALAN SE- BAGAI ARENA BALAPAN LIAR? STUDI INTERVENSI JALAN KOTA OLEH REMAJA DI BINTARO Irma Desiyana Irma Desiyana adalah pengajar tetap pada Program Studi Arsitektur, Fakultas Seni & Desain, Universitas Multimedia Nusantara. Abstrak: Balapan liar mengintervensi fungsi jalan kota sebagai koridor penghubung kegia- tan ekonomi dan sosial. Pembangunan jalan sebagai koridor kota selama ini mengutamakan faktor ekonomi dengan spesifkasi jalan kota di Bintaro adalah lebar, mulus, dan cenderung lurus. Jalan berperan penting sebagai pembentuk wajah kota; namun balapan liar tidak dapat dihentikan oleh masyarakat dan pihak berwenang. Usaha menghentikan dengan rancangan tambahan berupa pembatas kecepatan tidak berhasil menghalangi balapan liar. Perencanaan kota sebaiknya mempertimbangkan berbagai kelompok usia, maka studi intervensi jalan kota penting sebagai bahan bagi perencana kota mempertimbangan kelompok usia remaja. Peneli- tian ini ingin menjawab, “apa hubungan persepsi ruang dan perilaku remaja pada jalan perko- taan dengan balapan liar di Bintaro?” Dan, fokus penelitian ini adalah pada jalan – jalan utama di Bintaro dengan melakukan observasi selama satu tahun di waktu berbeda dan mendekati dan berbicara dengan para remaja yang melakukan balapan liar di Bintaro. Kajian intervensi jalan perkotaan membutuhkan beberapa pendekatan literature berupa arsitektur, ruang kota, persepsi ruang dan tingkah laku remaja. Hasil studi ini mampu mengisi pemahaman persepsi ruang dan tingkah laku remaja pada koridor kota dan belum mencakup kelompok usia lain. Kata kunci: balapan liar, jalan kota, koridor kota, remaja e-mail: irma.desiyana@umn.ac.id Latar Belakang Fenomena balapan liar oleh para remaja di kawasan perkotaan mere- sahkan berbagai kalangan, khususnya wilayah Bintaro. Jalan sebagai koridor kota berubah menjadi arena balapan liar para remaja. Beberapa penanganan balapan liar telah dilakukan, baik tin- dakan dan rancangan tambahan. Pihak berwajib berusaha menangani balapan liar melalui razia dan penerapan atur- an kawasan untuk tidak balapan (lihat Gambar 1), namun balapan liar kerap terulang kembali hampir setiap malam menjelang dan saat libur. Penanganan dan pengawasan terbukti tidak mampu mengontrol perilaku nakal para remaja karena mereka dengan mudah berpin- dah ke kawasan lain. Langkah lain dari pengembang adalah membuat polisi tidur untuk membatasi kecepatan dan terbukti tidak mengurangi intensitas balapan liar. Jalan merupakan bagian dari