JITEL (Jurnal Ilmiah Telekomunikasi, Elektronika, dan Listrik Tenaga) p-ISSN: 2774-7972 Vol. 1, No. 1, Maret 2021, pp. 79-88 e-ISSN: 2775-6696 Website: https://jitel.polban.ac.id/jitel 79 Naskah diterima tanggal 4 Januari 2021, disetujui tanggal 1 Maret 2021 *E-mail korespondensi Simulasi peningkatan broadband antena menggunakan material dielektrik artifisial dan defected ground structure Hepi Ludiyati 1* , Marisa Putri Supriadi 2 , Ghania Yuntafa Putri 3 , Eka Pratiwi 4 1,2,3,4 Jurusan Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bandung Jl. Gegerkalong Hilir, Ciwaruga, Kecamatang Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Indonesia 1* hepi.ludiyati@polban.ac.id, 2 marisa.putri.tkom18@polban.ac.id, 3 ghania.yuntafa.tkom19@polban.ac.id, 4 eka.pratiwi.tcom417@polban.ac.id, ABSTRAK Antena merupakan perangkat telekomunikasi yang sangat penting dalam proses penerimaan dan pengiriman sinyal informasi. Operator telekomunikasi di Indonesia telah meluncurkan teknologi telekomunikasi 5G yang dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Untuk memenuhi semua kebutuhan layanan tersebut, diperlukan antena multiple input multiple output (MIMO) conformal yang memiliki bandwidth lebar dan gain yang tinggi. Akan tetapi, sebuah antena MIMO konvensional memiliki bandwidth yang sempit dan gain yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja broadband antena dengan menggunakan material artifisial dielektrik dan defected ground structure. Antena dirancang pada frekuensi 26 GHz dengan bandwidth di atas 500 MHz dan gain lebih tinggi dari 5 dBi. Penggunaan material dielektrik artifisial dilakukan dengan cara menyisipkan strip konduktor pada substrat antena, sedangkan penggunaan defected ground structure yaitu sebuah metoda pencacatan ground yang dapat memberikan dampak bandwidth yang lebih lebar. Berdasarkan simulasi menggunakan aplikasi CST Microwave didapatkan hasil parameter antena MIMO dengan artifisial dielektrik dan defected ground structure berupa gain sebesar 5,59 dBi, bandwidth sebesar 5,12 GHz, dan return loss pada frekuensi tengah sebesar 39,81 dB. Kata kunci: antena MIMO, 5G, dielektrik artifisial, defected ground structure ABSTRACT Antenna is a telecommunication device which is very important in the process of receiving and sending information signals. Telecommunication operators in Indonesia have launched 5G telecommunication technology that can serve various needs of society. To meet all these service requirements, a conformal multiple input multiple output (MIMO) antenna which has a wide bandwidth and high gain is required. However, a conventional MIMO antenna has a narrow bandwidth and low gain. This study aims to improve the performance of broadband antennas by using artificial dielectric material and defected ground structure. The antenna is designed at a frequency of 26 GHz with a bandwidth above 500 MHz and a gain higher than 5 dBi. The use of artificial dielectric material is carried out by inserting a conductor strip on the antenna substrate, while the use of a defected ground structure is a ground cutting method that can provide a wider bandwidth impact. Based on the simulation using the CST Microwave application, the results of the MIMO antenna parameters with an artificial dielectric and defected ground structure are a gain of 5.59 dBi, a bandwidth of 5.12 GHz, and a return loss at the center frequency of 39.81 dB. Keywords: antenna MIMO, 5G, artificial dielectric, defected ground structure 1. PENDAHULUAN Pertambahan pengguna teknologi di Indonesia yang semakin meningkat menuntut peningkatan layanan komunikasi yang handal, cepat, dan ekonomis. Operator telekomunikasi di Indonesia telah meluncurkan teknologi telekomunikasi 5G yang dapat melayani berbagai kebutuhan masyarakat seperti video streaming, private voice call dan collective voice call over IP, video on demand, teleconference, transmisi data, telemedicine, dan lain-lain. Konferensi Komunikasi Radio Dunia atau World Radio Communications Conferences (WRC) 2019 yang diselenggarakan di Mesir telah menetapkan 3 (tiga) pita frekuensi baru di millimeter wave untuk 5G yaitu 26 GHz (24,5 - 27,5 GHz), 40 GHz (37- 43,5 GHz) dan 66 GHz. Dalam hal ini, Indonesia diberikan otoritas layanan 5G pada