Mozaik Humaniora
Vol. 19 (2): 160-171
© Dwi Susanto (2019)
160
Narasi Identitas Subjek Perempuan dalam Gadis Kolot (1939)
Karya Soe Lie Piet: Kajian Kritik Sastra Feminis Pascakolonial
(Narrative Identity of Woman Subject
in Soe Lie Piet’ Gadis Kolot (1939):
A Study of Post-Colonial Feminist Literary Criticism)
Dwi Susanto
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret
Jalan Ir. Sutami, Kentingan, Surakarta 57126
Tel.: +62 (271) 635236
Surel: dwisastra81@gmail.com
Diterima: 22 Juni 2019 Direvisi: 8 November 2019 Disetujui: 21 Desember 2019
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana identitas perempuan dibangun dan mengapa penulis sebagai agen
kelompok sosial mewakili identitas perempuan. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti menggunakan metode kualitatif.
Data diambil dari semua karya sastra di era kolonial yang ditulis oleh penulis lelaki yang mewakili gagasan subjek
perempuan, seperti Gadis Kolot oleh Soe Lie Piet. Selanjutnya, data dianalisis dengan pendekatan dekonstruksi bersama-
sama dengan teori pascakolonial feminis. Data yang dianalisis difokuskan pada isi karya sastra bersama ide-idenya, yang
meliputi wacana pascakolonial dan hubungan perempuan, serta faktor sosiologis penulis. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa konstruksi identitas perempuan lebih terwakili di bawah perlawanan wacana kolonial, terutama terkait dengan ide-
ide liberalisme dan materialisme. Selain itu, perempuan lebih dianggap sebagai gambar simbolik, objek, dan sebagai
tempat persembunyian dari pria yang dijajah. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa konstruksi identitas
perempuan yang diklasifikasikan ke dalam kelompok sosial etnis dan kelas moderat mempromosikan nilai-nilai tradisional
atau leluhur. Karenanya, para wanita tidak dapat berbicara dan menunjukkan narasinya. Akhirnya, hasil penelitian ini
diharapkan bermanfaat untuk studi gender, terutama yang terkait dengan wacana kolonial dan etnis dalam sastra
Indonesia.
Kata kunci: peranakan Tionghoa, subjek perempuan, wacana kolonial
Abstract
This study aims to reveal how women’s identity is constructed and why authors as social group agents represent women’s
identity. To achieve this goal, the researcher uses qualitative method. Data are taken from all literary works in colonial era
written by men authors, that represent women subject ideas, such as Gadis Kolot by Soe Lie Piet. Furthermore, the data are
analyzed by deconstruction approach together with feminist postcolonial theory. The data analyzed are focused on the
content of the literary works together their ideas, including postcolonial discourse and women relation, as well as the
sociological factors of authors. The results show that the construction of women’s identity is more represented under
colonial discourse resistance, especially related to liberalism and materialism ideas. Besides, women are more considered
as symbolic images, objects, and as hideaway from men colonized. Moreover, the construction of women’s identity
classified into ethnical social group and moderate class promotes more traditional values or ancestral values. Therefore,
the women cannot speak and show their narration. Finally, the results of this study are expected to be beneficial for
gender studies, especially related to colonial discourse and ethnicity in Indonesian literatures.
Keywords: Chinese-Indonesia, colonial discourse, the women subject
PENDAHULUAN
Teks-teks kesastraan di era kolonial Belanda (1900-1942), di luar tradisi kanon Balai Pustaka,
menunjukkan gagasan tentang konstruksi subjek perempuan. Konstruksi subjek perempuan, sebagai
bentuk wacana kolonial, ditanggapi oleh berbagai pengarang yang berasal dari ras, etnis, dan