112 AKTIVASI ABU LAYANG BATUBARA DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN TIMBAL DALAM PENGOLAHAN LIMBAH ELEKTROPLATING Widi Astuti 1 , F. Widhi Mahatmanti 2 1 Fakultas Teknik, 2 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang Abstrak. Masalah utama pada pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara sebagai sumber energi adalah adanya limbah padat berupa abu layang batubara. Abu ini belum termanfaatkan dengan baik dan hanya ditumpuk dalam landfill sehingga menyebabkan masalah lingkungan. Abu layang tersusun atas beberapa oksida berpori (terutaman silika) dan unburned carbon yang mempunyai potensi baik sebagai adsorben. Namun,tingginya tingkat kristalinitas silika dan kandungan unburned carbon dapat menyebabkan turunnya kapasitas adsorpsi. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh kristalinitas silika dan unburned carbon terhadap kapasitas adsorpsi timbal. Penurunan kristalinitas dilakukan dengan larutan NaOH sedangkan penurunan kadar unburned carbon menggunakan larutan H 2 SO 4 . Hasilnya, perlakuan dengan H 2 SO 4 40% vol. selama 2 jam dengan suhu 40 o C mampu menurunkan kandungan karbon sebesar 63%, dan meningkatkan kapasitas adsorpsi sebesar 65,28%. Sementara perlakuan dengan NaOH dapat menurunkan tingkat kristalinitas dan meningkatkan kapasitas adsorpsi hingga hampir 100%. Kata kunci : abu layang batubara, adsorben, timbal PENDAHULUAN Pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya menghasilkan limbah padat berupa abu layang dalam jumlah yang cukup besar, mencapai 7,87% dari batubara yang digunakan (Herry, 1993). Bila hal ini dibiarkan terus menerus maka abu layang tidak mempunyai nilai ekonomi dan justru akan menimbulkan masalah bagi lingkungan sekitarnya, seperti yang terjadi di Dukuh Ngelo, Desa Tubanan, Kecamatan Kembang Jepara, dimana PLTU Tanjung Jati B didirikan. Sejak PLTU tersebut berdiri, 95% warga Dukuh Ngelo mengalami infeksi pernafasan, dan semua perkakas, jemuran pakaian kotor terkena abu (Cahyono, 2007). Dengan demikian perlu adanya usaha-usaha nyata untuk mengolah dan memanfaatkan abu layang ini sebanyak-banyaknya dan seefektif mungkin. Di sisi lain sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk, kebutuhan air untuk berbagai keperluan semakin meningkat. Pemenuhan kebutuhan air bersih saat ini sudah mulai menjadi masalah yang cukup serius. Hal ini diperburuk lagi dengan makin meningkatnya pencemaran air oleh limbah industri, terutama industri-industri yang banyak menggunakan logam berat seperti elektroplating yang seringkali tidak memperhatikan kualitas limbah cair yang dibuang. Komposisi kimia abu layang menunjukkan bahwa sebagian besar tersusun atas oksida logam, terutama SiO 2 dan Al 2 O 3 yang mempunyai situs aktif sehingga dimungkinkan abu dapat digunakan sebagai adsorbent logam berat (Mattigold et al., 1990). Namun, pembakaran batu bara untuk keperluan pembangkit tenaga listrik yang memerlukan suhu tinggi seringkali menghasilkan abu layang dengan kandungan SiO 2 dalam fase kristalin, dan kandungan unburned carbon tinggi dimana hal ini akan menurunkan kapasitas adsorpsi abu terhadap logam berat. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh