233 SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DAN PENDIDIKAN BIOLOGI UKSW 2018 STATUS KONSERVASI JENIS IKAN PARI YANG DIPERDAGANGKAN DI TPI DI KOTA SEMARANG BERDASARKAN GEN COI MITOKONDRIA Ning Setiati*, Endah Peniati, Ria Ika Maharani Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang *Email: ning.setiati@gmail.com ABSTRAK Hampir sebagian besar jenis ikan pari yang ada di TPI Kota Semarang termasuk ke dalam daftar merah IUCN sebagai spesies yang terancam punah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif. Sampel sepotong sirip dari jenis-jenis ikan pari untuk analisis gen COI Mitokondria melalui ekstrasi DNA dilanjutkan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan pasangan primer fish BCL5 dan fish BCH, elektroforesis, sekuensing dan analisis filogenetik. Analisis filogenetik diproses menggunakan software MEGA versi 5.1. Analisa dan penyusunan pohon filogenetik dilakukan dengan metode Maximum Likelihood. Amplifikasi DNA menggunakan marka mitokondria lokus COI dengan panjang pasang basa 600-700 basepair. Hasil isolasi DNA diperoleh panjang bp yaitu 600-700 nukleotida. Hasil penelitian diperoleh 5 jenis ikan pari yaitu Pari Beting (Dasyatis uarnak), Pari Totol (Dasyatis kuhlii), Pari Cambuk (Hymantura uarnak), Pari Duri (Dasyatis annotatus), Pari Bendera (Dasyatis sephen), yang semua termasuk Famili Dasyatidae. Analisis filogenetik dan status konservasi untuk 5 jenis ikan pari adalah least concern (LC), yaitu memiliki resiko kepunahan akan tetapi masih terkategori rendah. Dasyatis annotatus memiliki status konservasi yang penting dan genting untuk segera di konservasi karena terancam punah. Kata kunci: filogenetik, gen COI, konservasi, mitokondria, TPI PENDAHULUAN Indonesia memiliki 117 jenis hiu dan pari dari 400 jenis hiu yang ada di dunia, Namun keberadaan spesies tersebut terancam berkurang karena masifnya perburuan. Indonesia merupakan Negara adengan laju perburuan hiu dan pari paling tinggi di dunia. Hal tersebut berdasarkan jumlah produksi pada tahun 2011 sebanyak 50.000 ton, dimana 71% merupakan tangkapan sampingan (bycatch) dan 29% tangkapan utama (ikan target tangkapan). Tingginya angka eksploitasi tersebut menjadi kekhawatiran kelestarian populasi hiu dan ikan pari di Indonesia. Keadaan demikian berakibat terhadap ketidak seimbangan ekosistem perairan laut karena akan terjadinya ledakan spesies salah satu trofik. Itu berarti telah terjadinya sistem ekologi yang ‘tidak sehat’ dan akan berakibat terhadap kelestarian alam ini (Peloa et al, 2007) Kota Semarang merupakan daerah pesisir yang berpotensi menghasilkan perikanan laut cukup besar, hal ini terlihat dengan adanya berbagai jenis ikan yang tertangkap nelayan diantaranya adalah ikan hiu dan ikan pari (Kelas Chondrichthyes). Hal ini mendorong perlunya dilakukan identifikasi dan pengkajian jenis-jenis serta berapa jumlah ikan pari dan ikan hiu yang Dilindungi/Tidak Dilindungi dengan pendekatan molekuler. Penggunaan DNA mitokondria (mtDNA) sebagai gen target semakin banyak di lakukan untuk identifikasi suatu spesies (Kyle dan Wilson 2007). Kelebihan yang dimiliki oleh mtDNA sebagai target dalam identifikasi spesies, diantaranya ialah berevolusi lebih cepat dibandingkan DNA inti (Tamura et al, 2011), berukuran lebih kecil dibandingkan DNA inti, terdapat beberapa salinan didalam sel sehingga memudahkan dalam pengisolasian dan purifikasi untuk berbagai keperluan analisa. Oleh karena itu, penggunaan mtDNA sangat efektif untuk penentuan dan pengidentifikasian keragaman genetik suatu makhluk hidup. METODE PENELITIAN Sampel merupakan jenis ikan hiu dan pari yang ditemukan di tempat pelelangan ikan di Kota Semarang yang meliputi TPI Tambak Lorok, TPI Delik Rejo, TPI Pasar Kobong dan TPI Mangkang. Sampel yang diperoleh diambil bagian sayap sekitar dua miligram. Ekstraksi DNA dan Polymerase Chain Reaction (PCR)