Building of Informatics, Technology and Science (BITS)
Volume 5, No 1, Juni 2023 Page: 126−133
ISSN 2684-8910 (media cetak)
ISSN 2685-3310 (media online)
DOI 10.47065/bits.v5i1.3592
Copyright © 2023 Risna Lailatun Najmi, Page 126
This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Analisis Pola Asosiasi Data Transaksi Penjualan Minuman
Menggunakan Algoritma FP-Growth dan Eclat
Risna Lailatun Najmi, Muhammad Irsyad
*
, Fitri Insani, Alwis Nazir, Pizaini
Fakultas Sains dan Teknologi, Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru, Indonesia
Email:
1
11950120055@students.uin-suska.ac.id,
2,*
irsyadtech@uin-suska.ac.id,
3
fitri.insani@uin-suska.ac.id,
4
alwis.nazir@uin-
suska.ac.id,
5
pizaini@uin-suska.ac.id
Email Penulis Korespondensi: irsyadtech@uin-suska.ac.id
Submitted: 07/06/2023; Accepted: 27/06/2023; Published: 29/06/2023
Abstrak−Setiap hari aktivitas transaksi antara perusahaan dan konsumen terus dilakukan. Hal tersebut membuat data-data transaksi
semakin banyak dan menumpuk. Data-data transaksi tersebut dapat diolah menjadi berupa informasi yang lebih bermanfaat
menggunakan teknologi. Data mining merupakan teknologi yang dapat mengerjakan kumpulan data transaksi tersebut menjadi
sebuah keterangan yang dapat diambil oleh perusahaan sebagai pengambil keputusan. Metode Association Rule digunakan sebagai
metode untuk melihat hubungan antara item di dalam sebuah data transaksi. Peneliti menganalisis data transaksi menggunakan
algoritma FP-Growth dan Eclat. Terdapat tiga tahapan asosiasi pada penelitian ini yang dibedakan dari nilai confidence. Hasil pada
tahap pertama nilai minimal confidence 0.4, algoritma FP-Growth menghasilkan 41 aturan pola asosiasi, sedangkan algoritma Eclat
menghasilkan 32 aturan pola asosiasi. Kemudian, pada tahap kedua nilai minimal confidence 0.5, algoritma FP-Growth
menghasilkan 40 aturan pola asosiasi, untuk algoritma Eclat menghasilkan 32 aturan pola asosiasi. Pada tahap ketiga nilai minimal
confidence 0.6, algoritma FP-Growth menghasilkan 32 aturan pola asosiasi, sedangkan untuk algoritma Eclat menghasilkan 30
aturan pola asosiasi. Dari hasil aturan pola asosiasi menunjukkan bahwa algoritma Eclat lebih efisien dalam menentukan aturan
pola asosiasi dari algoritma Fp-Growth.
Kata Kunci: Data Mining; Data Transaksi; Association Rule; FP-Growth; Eclat
Abstract−Every day transaction activities between companies and consumers continue to be carried out. This makes transaction
data more and more and accumulate. This transaction data can be processed into more useful information using technology. Data
mining is a technology that can work on a collection of transaction data into information that can be taken by companies as decision
makers. The association rule method is used as a method to see the relationship between items in a transaction data. To analyze
transaction data, researchers used the FP-Growth and Eclat algorithms. There are three stages of association in this study which are
distinguished from the confidence value. The results in the first stage have a minimum confidence value of 0.4, the FP-Growth
algorithm produces 41 association pattern rules, while the Eclat algorithm produces 32 association pattern rules. Then in the second
stage the minimum trust value is 0.5, the FP-Growth algorithm produces 40 association pattern rules, for the Eclat algorithm it
produces 32 association pattern rules. In the third stage, the minimum trust value is 0.6, the FP-Growth algorithm generates 32
association pattern rules, while the Eclat algorithm generates 30 association pattern rules. The results of the association pattern
rules show that the Eclat algorithm is more efficient in determining the association pattern rules than the Fp-Growth algorithm.
Keywords: Data Mining; Transaction Data; Association Rule; FP-Growth; Eclat
1. PENDAHULUAN
Pengambilan keputusan dengan akurat serta cepat adalah faktor yang penting untuk menentukan strategi bisnis
perusahaan[1], [2]. Dalam mengambil keputusan para pemimpin perusahaan tidak dapat lagi menggunakan intuisi,
namun harus dilakukan berdasarkan data[1]. Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan dalam proses
pengumpulan data memungkinkan perusahaan menampung jumlah data yang sangat banyak dan beragam tiap
harinya[3]. Seperti data pembelian barang, data penjualan, data keuangan yang masuk dan data lainnya. Data yang
ada dalam beberapa jangka waktu jika diolah dengan benar akan membuat pola tertentu yang bermanfaat bagi
perusahaan[4].
PT. RAS merupakan salah satu perusahaan distributor yang menghimpun banyak data transaksi penjualan.
Apabila kumpulan data transaksi penjualan tidak diolah dengan benar maka akan merugikan pemilik perusahaan dan
konsumen[4]–[6]. Jika stok produk terlalu sedikit dan permintaan meningkat, hal tersebut akan membuat konsumen
merasa putus asa dan bisa jadi konsumen tidak akan beli lagi karena sudah mendapat barang dari distributor lain.
Demikian juga jika stok produk terlalu banyak, hal tersebut dapat membuat perusahaan tidak mendapatkan laba karena
perusahaan harus mempersiapkan gudang yang lebih luas. Oleh sebab itu, manajemen perusahaan harus dapat
menentukan berapa banyak suatu produk yang disimpan untuk dijual lagi. Selanjutnya, manajemen perusahaan juga
perlu cermat dalam mengamati keinginan konsumen agar konsumen merasa senang karena memproleh apa yang
dibutuhkan[7].
Akan diimplementasikan data mining untuk menemukan inventori yang sesuai dari analisis data-data transaksi
penjualan. Data mining adalah teknologi yang dapat mengolah data dengan jumlah besar yang digunakan perusahaan
buat mengganti data menjadi berupa informasi yang lebih berguna untuk memilih keputusan penting[1], [3].
Association Rule ialah metode dari data mining untuk mencari asosiasi antara item dalam sebuah kombinasi itemset
di antara banyak transaksi[8]. Di dalam Association Rule terdapat prosedur yang disebut market basket analysis[9].
Market basket analysis merupakan metode analisis untuk melihat kebiasaan konsumen dalam beli barang secara
bersamaan berdasarkan data[5], [10].