Media Teknologi Hasil Perikanan September 2021, 9(3): 109–115 Gusu et al., 2021 109 e-ISSN 2682-7205; p-ISSN 2337-4284 Media Teknologi Hasil Perikanan Terakreditasi Nasional (Sinta 4) September 2021, 9(3): 109–115 SK Ditjen Risbang Kemristekdikti DOI: https://doi.org/10.35800/mthp.9.3.2021.29587 No: 28/E/KPT/2019 Available online https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jmthp/index PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP MUTU IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L. ) ASAP Jahara Gusu*, Hens Onibala, Jenki Pongoh, Nurmeilita Taher, Verly Dotulong, Feny Mentang Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, 95115. *Penulis koresponden: gusujahara0312@gmail.com (Diterima 25-07-2021; Direvisi 21-09-2021; Dipublikasi 30-09-2021) ABSTRACT The purpose of this study was to obtain mangosteen rind extract which was dried for 4 and 8 days as a preservative and to see the effect of consumer preference on smoked skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L.) soaked in mangosteen rind extract. The highest organoleptic test observation data was found in Aroma with a value of 8.1 drying 8 days with 15 minutes soaking (A2B1) in 0 days storage and the lowest organoleptic test results data found in Rasa with a value of 2.5 drying 4 days with 30 soaking. minutes in the 10th day of storage. The results of the TVB-N study showed that the mangosteen rind solution with storage for 0 days until the 10th day was already above the Indonesian National Standard (SNI) so it was not suitable for consumption. Keyword: Mangosteen rind, Skipjack, Katsuwonus pelamis, Smoked Fish Tujuan Penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak kulit buah manggis yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet dan melihat pengaruh tingkat kesukaan konsumen terhadap ikan cakalang ( Katsuwonus pelamis L.) asap yang direndam dalam ekstrak kulit buah manggis. Data hasil pengamatan uji organoleptik yang tertinggi terdapat pada Aroma dengan nilai 8,1 pengeringan 8 hari dengan perendaman 15 menit (A2B1) dalam penyimpanan 0 hari dan data hasil uji organoleptik yang terendah terdapat pada Rasa dengan nilai 2,5 pengeringan 4 hari dengan perendaman 30 menit dalam penyimpanan hari ke-10. Hasil penelitian TVB-N menunjukkan bahwa larutan kulit buah manggis dengan penyimpanan 0 hari sampai hari ke-10 sudah di atas Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) sehingga sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Kata kunci: Kulit Manggis, Cakalang, Katsuwonus pelamis, ikan asap. PENDAHULUAN Manggis ( Garcinia mangostana L.) merupakan tumbuhan fungsional karena sebagian besar dari tumbuhan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai obat. Akan tetapi, banyak yang tidak mengetahui jika kulit buah manggis memiliki khasiat. Kulit buah manggis yang selama ini dibuang sebagai limbah setelah habis menyantap daging buah, ternyata memiliki segudang manfaat penting bagi kesehatan. Di dalam kulit buah manggis kaya akan antioksidan seperti xanthone dan antosianin (Moongkandi, et al ., 2004) Berbagai penelitian menunjukkan, senyawa xanthone yang terdapat di dalam kulit buah manggis memiliki sifat sebagai anti diabetes, anti kanker, anti peradangan, meningkatkan kekebalan tubuh, anti bakteri, anti fungi, dan dapat digunakan sebagai pewarna alami. Xanthone di dalam kulit buah manggis yang bersifat sebagai anti diabetes telah dibuktikan oleh seorang peneliti di Jepang, yang dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus percobaan dengan kasus diabetes mellitus tipe II. Kulit buah manggis ( Garcinia mangostana L.) berwarna cokelat, merah dan sewaktu matang berubah menjadi ungu atau lembayung tua. Kulit buah manggis memiliki permukaan yang licin dan keras. Buah ini juga bergetah, namun semakin tua getahnya akan semakin berkurang. Kulit buah manggis kaya akan pectin, tannin, zat warna hitam, dan zat antibiotik xanthone (Verherj, 1997). Ikan merupakan salah satu hasil perikanan yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Ikan disamping sebagai sumber gizi bagi manusia, ikan merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme (Bakteri, ragi dan jamur). Bahan pangan yang berupa daging, baik yang berasal dari ternak maupun ikan ternyata paling tinggi kandungan mikroorganismenya jika dibandingkan dengan sayuran dan buah-buahan (Nento, 2013).