51 EKSPLORASI ETHNOMATEMATIKA PADA PERMAINAN TRADISIONAL EGRANG DI TANOKER LEDOKOMBO JEMBER Fikri Apriyono 1 , Eliana Aida Rosyidah 2 , Triandriyanto Purnomo 3 , Joko Sulityo 4 , Mochammad Misbahul Munir 5 , Vivi Widya Safitri 6 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Email: fikrimath@gmail.com Abstrak: Degradasi moral, psikologi dan kemunduran intelektual anak-anak terjadi di Ledokombo. Namun hal itu dapat diatasi dengan adanya kegiatan edukasi untuk anak- anak. Alasan tersebut memotivasi penulis untuk mengekplorasi permainan tradisional egrang yang masih diminati di wilayah Ledokombo dan menjadi budaya lokal. Dalam upaya edukasi penulis mengintegrasikan nilai-nilai matematika ke dalam eksplorasi permainan tradisional egrang. Matematika dipilih karena hingga saat ini matematika menjadi pelajaran yang ditakuti anak-anak Ledokombo. Penelitian menggunakan jenis kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian adalah penggiat budaya egrang di Ledokombo, anak-anak Ledokombo dan Karyawan di Tanoker Ledokombo sebagai penggiat. Data dikumpulkan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi berdasarkan prosedur penelitian. Terakhir data dianalisis menggunakan metode triangulasi untuk mendapatkan data yang valid. Hasil yang didapat dalam penelitian ethnomatematika egrang adalah cara pembuatan egrang, macam-macam bentuk egrang, cara bermain dan eksplorasi konsep matematika yang ada pada egrang. Hasil penelitian ethnomatematika egrang di Ledokombo diharapkan mampu menjadi pedoman siswa dan guru untuk mengatasi permasalahan lokal dengan cara yang menyenangkan, mengedukasi dan upaya melestarikan serta mencintai budaya lokal. Kata Kunci: Ethnomatematika, permainan tradisional dan Egrang Pendahuluan Ledokombo dikenal sebagai daerah tertinggal yang susah dijangkau kendaraan umum. Kondisi ini diperparah dengan kondisi ekonomi masyarakatnya. Sekitar 70% masyarakat Ledokombo bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia, buruh tani dan buruh sektor informal. Di bidang pendidikan, Ledokombo termasuk daerah tertinggal dengan kurangnya fasiitas pendidikan, dan kurangnya tenaga pendidik. Segi budaya di Ledokombo juga perlu perhatian khusus. Masyarakat Ledokombo mempunyai kebiasaan berhutang (Sensus Penduduk Ledokombo, 2010) yang mengakibatkan alasan penduduk untuk menjadi tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Sudut pandang masyarakat Ledokombo termasuk keras, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Ledokombo adalah etnis Madura. Asumsi yang melekat pada orang Madura adalah berwatak kasar, arogan, mudah tersinggung, suka berkelahi, dan berjiwa statis. (Rifai, 2007: 456). Asumsi tersebut membuat Ledokombo menjadi daerah yang belum berkembang dikarenakan kondisi beberapa sektor dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk maju. Ketidakstabilan kondisi ekonomi, sosial, budaya dan pendidika di Ledokombo mengakibatkan banyaknya masalah yang bermunculan dan memperkeruh keadaan daerah. Akibat kurangnya perhatian orang tua yang sibuk bekerja di luar negeri banyak anak-anak Ledokombo masuk pada pergaulan yang salah, pengangguran, putus sekolah, hamil di luar nikah, kecanduan obat-obatan, minuman keras serta narkoba, dan kekerasan pada anak buruh migran. Permasalahan yang semakin banyak memotivasi Bu Ciciek dan Bapak Supoh untuk memperbaiki degradasi moral anak-anak Ledokombo melalui permainan tradisonal. Bermula dari permasalahan tersebut maka lahirlah komunitas Tanoker yang memberikan edukasi. Integrasi permainan tradisional dalam budaya, festival dan ekstrakulikuler di sekolah telah diterapkan di Jember lebih tepatnya di daerah Ledokombo Jember. Masyarakat