863 PERUBAHAN FONEM PADA KOSA KATA BAHASA JEPANG BENTUK GOUSEIGO Jos Narande, Sherly Lensun Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Manado Email : narandejos@unima.ac.id Abstract : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu data mengenai kata majemuk bahasa jepang (gouseigo) dianalisis dan dipaparkan sesuai dengan keadaan atau fenomena yang ada secara apa adanya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi yang bersumber dari buku-buku kepustakaan yang ada kaitannya dengan gouseigo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan fonem pada proses pembentukan gouseigo. Dalam penelitian ini data dianalisis dengan cara mengidentifikasikan kosa kata yang berbentuk gouseigo, membuat daftar gouseigo, menginterpretasi data sesuai teori, kemudian membahas hasil pengolahan data. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembelajar bahasa Jepang supaya dapat memahami dan membentuk kata majemuk bahasa Jepang dengan tepat. Kata kunci : gouseigo, morfofonemik, perubahan fonem A. PENDAHULUAN Salah satu bahasa asing yang banyak dipelajari saat ini adalah bahasa Jepang. Bahasa Jepang banyak diminati sebab orang ingin pergi ke Jepang dengan berbagai motivasi dan alasan. Agar dapat berkomunikasi dalam bahasa Jepang, pentinglah bagi para pembelajar atau siapa saja yang tertarik dengan bahasa Jepang untuk memahami atau minimal mengetahui linguistik bahasa Jepang. Istilah linguistik bahasa Jepang dikenal dengan nihongogaku ( 日本語学 ). Jadi, semua hal tentang bahasa Jepang dipelajari dalam nihongogaku. Dalam nihongogaku hal yang dapat dikaji, yaitu berupa bunyi ujaran, kata, kalimat, bahkan sampai pada masyarakat pengguna bahasa. Jadi, nihongogaku mencakup semua cabang linguistik, yakni onseigaku (音声学) ‘fonetik’, on-in-ron (音韻論) ‘fonologi’, keitairon (形態論) ‘morfologi’, tougoron/sintakusu ( 統語論· シンタクス) ‘sintaksis’, imiron ( ) ‘semantik’, goyouron ( 語用論 ) ‘pragmatik’, shakai gengogaku ( 社会言語学 ) ‘sosio-linguistik’ dan sebagainya (Sutedi, 2003: 6). Bahasa sebagai alat interaksi dalam peristiwa tutur, terbentuk dari susunan kata. Oleh karena itu, kata merupakan salah satu unsur yang penting dalam pembentukan kalimat. Istilah kata dalam bahasa Jepang disebut dengan tango ( 単語 ). Menurut Verhaar (2008: 97) kata merupakan satuan atau bentuk “bebas” dalam tuturan. Bentuk “bebas” secara morfemis adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri, artinya tidak membutuhkan bentuk lain yang digabung dengannya, dan dapat