contoh 94 Pesantren Muadalah Antara Realitas dan Idealitas Kampung Santri Bernama Kajen Kajen adalah sebuah Kampung santri yang berada di sekitar jalur Pantura, tepatnya beralamatkan di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dari ibukota Pati, Kajen berjarak kurang lebih 18 KM ke utara. Kalau kita ke sana dari arah Semarang, kita bisa naik Bus jurusan Surabaya turun di terminal Pati. Dari terminal Pati kita bisa naik bus jurusan Tayu turun di Desa Kajen, atau kendaraan kecil lainnya seperti ojek untuk mengantar sampai ke desa Kajen. Desa Kajen adalah desa yang sudah padat penduduknya, sekalipun di luar desa masih membentang sawah yang luas. Luas tanah Desa Kajen sekitar 66.660 ha (0.65 km2) yang terdiri dari 4.710 ha tanah tegalan dan sisanya adalah tanah pekarangan dan bangunan rumah penduduk. Desa Kajen berada di tengah-tengah antara desa Waturoyo dengan Desa Ngemplak. Secara administrasi pemerintahan, desa Kajen berbatasan dengan desa Ngemplak Kidul (sebelah Selatan), Desa Sekar Jalak (Sebelah Timur), Desa Waturoyo (sebelah Utara). Desa Kajen terdiri dari 11 Rukun Tetangga, dan 2 Rukun Warga. Desa ini mempunyai penduduk asli kurang lebih 3700 jiwa. Mata pencaharian penduduk beragam, ada petani, buruh, pedagang makanan untuk para santri, ada yang membuka warung internet dan sebagainya. Masyarakat Kajen lebih memahami tercukupinya kebutuhan hidup mereka lebih banyak dipengaruhi oleh keberkahan tempat itu. Dengan banyaknya santri yang belajar di tempat itu, banyaknya tamu berziarah ke makam KH Mutamakkin membuat ruang usaha kecil-kecilan terbuka bagi mereka. Fakta ini membedakan dengan Desa Ngemplak di sebelahnya yang banyak menekuni pembuatan Tepung Tapioka dan bidang perdagangan di sepanjang jalan di Ngemplak. Di desa Kajen ini terdapat kurang lebih 40 pesantren. Hampir setiap rumah adalah tempat mukim para santri. Ada kurang lebih 7000 santri yang mukim di daerah itu. Sejarah Kajen mulai menjadi kampung santri adalah sejak H. Mutammakin mengembangkan pendidikan agama di wilayah itu. Di antara para kiai, santri, dan masyarakat tercipta hubungan simbiosis mutualisme sedemikian rupa sehingga Kajen sangat memenuhi syarat untuk disebut sebagai kampung santri. Tidak ada konfik terbuka antar kiai, juga tidak ada kesan persaingan antar satu pesantren dengan pesantren lainnya. 7 Bagian Pesantren Muadalah Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati Oleh : M. Murtadho