JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 11, No. 4 (2022), 2337-3520 (2301-928X Print) G1 Abstrak—Angka kasus gangguan kesehatan mental di Indonesia cukup memprihatinkan. Faktor penyebab gangguan kecemasan berasal dari lingkungan sekitar seperti pekerjaan, sekolah, pertemanan, bahkan keluarga sendiri dan jika dibiarkan berkepanjangan dapat memperburuk keadaan psikologis dan berdampak ke kehidupan kedepannya. Mendatangi seorang profesional mereupakan salah satu cara untuk menangani gangguan kecemasan. Arsitektur hadir untuk merespon isu tersebut dengan menyediakan bangunan dengan healing environment. Dengan memasukkan analisa perilaku manusia dalam rancangan dengan bantuan psychology architecture sebagai pendekatan yang memfokuskan studi mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungannya serta desain biofilik sebagai metode, diharapkan rancangan dapat mewadahi kebutuhan penduduk Jakarta dan menghasilkan respon positif terutama bagi mereka yang memiliki masalah dengan gangguan kecemasan. Kata Kunci— Fasilitas Kesehatan, Gangguan Kecemasan, Healing Garden, Pola Sirkulasi, Psychology Architecture. I. PENDAHULUAN ONDISI gangguan mental di Indonesia cukup memprihatinkan. Berdasarlam data dari Riset Kesehatan Dasar dari Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2018 Gambar 1, sebesar 13,4% penduduk di Indonesia hidup dengan gangguan mental dan sebesar 4,5% kasus kematian disebabkan oleh gangguan mental [1]. Salah satu fenomena gangguan mental, lebih tepatnya gangguan mental ringan, yang terjadi di Indonesia adalah quarter life crisis, dimana mereka yang merasakannya memiliki perasaan tidak memiliki arah, khawatir, dan bingung akan ketidakpastian kehidupannya di masa yang akan datang Gambar 2 [2]. Dalam menghadapi sebuah masalah, tidak semua orang dapat meng-abaikan pikiran negatif yang terus mengganggunya. Orang dengan kecemasan berlebih cenderung memendamnya dan tidak menyuarakan apa yang mereka rasakan Gambar 3. Hal ini bisa memicu rasa kesendirian yang dapat memperburuk keadaan psikologis yang akan berdampak ke kehidupannya dan jika dibiarkan dapat mengganggu fisik, emosi menjadi tidak stabil, dan sosialisasi juga terganggu. Fasilitas kesehatan yang menangani permasalahan tersebut khususnya di Jakarta masih banyak yang ditemukan hanya mengutamakan aspek fungsinya saja tanpa memperhatikan aspek lainnya, seperti estetika atau bahkan aspek manusia atau penggunanya itu sendiri. Sudah seharusnya pengguna menjadi poin penting yang perlu diperhatikan terutama pada fasilitas kesehatan. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini adalah menemukan cara untuk membantu mengurangi angka gangguan kecemasan yang dialami di Indonesia khususnya Jakarta yang akan dihadirkan dalam fasilitas kesehatan terapi mental dengan menjadikan manusia sebagai poin utama dalam seluruh prosesnya. Selain peran dari seorang ahli psikologi, arsitektur dapat membantu untuk menangani permasalahan ini. Arsitektur memang tidak dapat menyembuhkan, namun arsitektur dapat menciptakan lingkungan yang dapat menyembuhkan [3]. Desain arsitektur dapat menunjang proses penyembuhan dikarenakan desain arsitektur dapat memberikan pengaruh pada psikologis dan fisik pasien dengan mengutamakan suasana nyaman, tenang, serta meningkatkan semangat hidup pasien. Kalimat tersebut sesuai dengan salah satu konsep arsitektur, yaitu Therapeutic Architecture. Konsep ini merupakan konsep arsitektur yang berpusat pada manusia yang bertujuan untuk mengidentifi-kasi dan mendukung cara- cara penggabungan elemen-elemen spasial yang berinteraksi dengan manusia secara fisiologis dan psikologis ke dalam desain Gambar 4 [4]. II. METODE A. Force-based Framework Proses penelitian ini dibantu dengan penggunaan kerangka berpikir agar proses dapat dilakukan dengan terstruktur. Kerangka berpikir yang digunakan pada proses ini ialah Integrasi Konfigurasi Healing Garden Pada Fasilitas Kesehatan Mental Nabila Puspitowati dan Iwan Adi Indrawan Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: iwanadiindrawan@arch.its.ac.id K Gambar 1. Prevalensi Depresi pada Penduduk menurut Kelompok Umur. Gambar 2. Ilustrasi Gangguan Kecemasan