Simposium Nasional RAPI XII - 2013 FT UMS ISSN 1412-9612 M-74 RANCANG BANGUN PROTOTYPE FLASH DRYER UNTUK PENGERINGAN TEPUNG MOCAF Bambang Kusharjanto 1 , Mei Tri Sundari 2 , Dwi Aries Himawanto 1 1 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Jalan. Ir. Sutami no. 36 A Surakarta 2 Jurusan Agobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jalan. Ir. Sutami no. 36 A Surakarta e-mail : bambang_k@uns.ac.id Abstrak Penelitian ini didorong oleh permasalahan riil yang muncul di kalangan pengarjin tepung mocaf “Segoro Makmur” di Desa Tambak Merang Kecamatan Girimarto Kabupaten Wonogiri. Pengrajin di sentra tersebut mengalami permasalahan pengeringan tepung mocaf terutama ketika musinm penghujan, namun permasalahan yang lebih mendasar lagi adalah tidak homogennya kadar air tepung mocaf yang dihasilkan baik ketika kondisi musim kemarau atau musim penghujan yang disebabkan oleh karena sistem pengeringan yang digunakan masih sangat sederhana. Hal tersebut diatas dapat diatasi dengan menggunakan penegringan sistem flash dryer. Penelitian diawali dengan proses desain prototype flash dryer, dalam proses desain beberapa hal yang diperhatikan adalah kapasitas bahan baku yang dapat diangkut oleh screw transporter, sistem pemanasan yang mampu menghasilkan pengeringan yang seragan dan besarnya kecepatan udara pengering yang diperlukan. Dari hasil penelitian, didapatkan prototype flash dryer dengan screw transporter berpenggerak motor listrik 3 HP, dengan blower untuk memasukkan udara pengering berdaya 370 W, sistem pembangkitan panas dalam flash dryer hasil rancangan menggunakan type shell and tube dengan sumber panas dari LPG. Prototype dirancang untuk mengeringkan tepung mocaf basah dengan kapasitas 10 kg/jam. Kata kunci : tepung mocaf; flash dryer; prototype. Pendahuluan Tepung mocaf sebagai bahan alternatif pengganti terigu mempunyai peluang yang cukup besar untuk dikembangkan. Dari sisi permintaan, kebutuhan akan pasar terigu kian meningkat seiring dengan perubahan pola konsumsi makanan masyarakat yang kian modern. Demikian juga dengan semakin menjamurnya berbagai jenis industri dan usaha pengolahan makanan, dari skala besar sampai penjual eceran, terutama sejak krisis ekonomi. Sementara dari sisi pasokan, tepung mocaf yang berbahan baku ubi kayu, salah satu tanaman pangan yang secara tradisional sudah lama dikembangkan di Indonesia, juga mempunyai potensi yang cukup besar. Luasnya lahan yang potensial untuk ditanami ubi kayu (karena kesesuaian geografis), kemudahan teknik budidaya, serta jumlah tenaga kerja yang bisa digerakkan, membuat tidak terlalu ada masalah dari sisi pasokan. Keinginan konsumen terhadap produk pangan yang diwujudkan dalam mutu produk tidak hanya mencakup nutrisi, tetapi juga mencakup keamanan, kemudahan pemakaian, dan imajinatif. Pangan tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan biologis. Dengan adanya pergeseran paradigma tersebut, maka tuntutan konsumen menjadi semakin penting dan menentukan perkembangan teknologi (arah dan jenisnya) serta inovasi makanan yang tersedia di pasar. Kebutuhan tepung secara nasional terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Dari tahun 1995 sampai dengan 2004, konsumsi terigu nasional untuk berbagai industri terus mengalami pertumbuhan, kecuali pada tahun 1998 yang pertumbuhannya negatif, karena krisis ekonomi. Selama kurun tersebut pertumbuhan rata- rata sebesar 5.84% per tahun, dan bahkan mencapai sekitar 7.00% pada lima tahun terakhir. Dengan pertumbuhan tersebut, konsumsi tepung terigu nasional mencapai lebih 1,7 juta ton per tahun pada tahun 2004. Sementara itu, data dari Asosiasi Produsen Terigu Indonesia (Aptindo) justru menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Menurut Aptindo, kebutuhan konsumsi terigu nasional pada tahun 2004 mencapai 3.334.108 ton,