Ulin - J Hut Trop Vol 7 (2): 142-152 pISSN 2599 1205, eISSN 2599 1183 September 2023 et al. – Ru nning title is a DOI:http://dx.doi.org/10.32522/ujht.v7i2.10375 142 Perubahan penggunaan lahan perkotaan dan fenomena urban heat island di Kota Tangerang Selatan Mohamad Chairuman 1 , Ake Wihadanto 2 , Edi Rusdiyanto 3 1 Mahasiswa Program Studi S2 Magister Studi Lingkungan, Universitas Terbuka 2 Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka 3 Program Studi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Terbuka Jalan Cabe Raya, Pondok Cabe Pamulang, Tangerang Selatan 15418, Banten, Indonesia Email : mchairuman@gmail.com Artikel diterima 06 Maret 2023 Revisi diterima: 09 Juni 2023 ABSTRACT The phenomenon of urban sprawl has changed the landscape of South Tangerang City through changes in land use. For example, green open spaces are replaced by settlements, buildings, roads, and other infrastructure. In addition, the rapid growth and development of a massive population have also triggered changes in land use from vegetated and productive land to built-up land. If these conditions are left unchecked, the temperature in the area will increase due to the loss of vegetated land. This heat phenomenon is known as Urban Heat Island (UHI). UHI is one of the most important urban problems arising from human activities and contributes to the degradation of environmental quality. This study aims to analyze land use change and its impact on UHI in South Tangerang City. This research uses a quantitative approach, and the analysis used includes land use analysis, NDVI, and surface temperature (LST) analysis with the help of ArcGIS 10.7 software. Based on data from a ten-year time span from 2010 to 2020, there was an increase in land change of 2,212 ha, or about 23.33%, in South Tangerang City. The increase in land change is recognized by the shrinking NDVI value and the increase in the highest value of LST caused by land use, so that it can be said that the area has indicated UHI. In the long term, UHI will have an impact on reducing environmental quality. The city government needs to anticipate the decline in environmental quality that occurs by determining the priority zone of green open space (RTH). Key words: Environmental quality; LST; NDVI; UHI; urban development ABSTRAK Fenomena urban sprawl telah merubah lanskap Kota Tangerang Selatan melalui perubahan fungsi lahan. Misalnya, ruang terbuka hijau digantikan oleh permukiman, bangunan gedung, jalan dan infrastruktur lainnya. Selain itu pesatnya pertumbuhan dan perkembangan penduduk yang massif ikut menjadi pemicu perubahan penggunaan lahan dari lahan bervegetasi dan produktif menjadi lahan terbangun. Jika kondisi tersebut dibiarkan akan berdampak pada bertambah panas suhu pada daerah tersebut akibat hilangnya lahan bervegetasi. Fenomena panas tersebut dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI). UHI merupakan salah satu masalah perkotaan yang paling penting yang timbul karena aktivitas manusia dan berkontribusi terhadap menurunnya kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan lahan yang terjadi dan dampaknya terhadap UHI di Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis yang digunakan meliputi analisis penggunaan lahan, NDVI serta analisis suhu permukaan (LST) dengan bantuan software ArcGIS 10.7. Berdasarkan data rentang waktu waktu sepuluh tahun yaitu tahun 2010 sampai 2020 menunjukkan terjadinya peningkatan perubahan lahan seluas 2.212 ha atau sekitar 23,33% di Kota Tangerang Selatan. Peningkatan perubahan lahan tersebut diikuti dengan menyusutnya nilai NDVI dan peningkatan luas dari nilai tertinggi LST yang disebabkan oleh penggunaan lahan sehingga dapat dikatakan wilayah tersebut telah terindikasi UHI. Dalam jangkan panjang UHI akan berdampak terhadap penurunan kualitas lingkungan. Pemerintah kota perlu mengantisipasi penurunan kualitas lingkungan yang terjadi dengan menentukan zona prioritas ruang terbuka hijau (RTH). Kata kunci LST; kualitas lingkungan; NDVI; perubahan lahan; UHI. PENDAHULUAN Dalam beberapa dekade terakhir, kota-kota besar di Indonesia telah mengalami kenaikan suhu yang signifikan karena beberapa alasan. Salah satunya adalah pertumbuhan penduduk yang mendorong urbanisasi yang masif. Urbanisasi tersebut mendorong perubahan pengunaan lahan dan peningkatan lahan terbangun untuk kebutuhan permukiman, dan peningkatan infrastruktur untuk mendukung mobilitas. Akibat perubahan penggunaan lahan dan peningkatkan lahan yang terbangun berdampak pada perubahan iklim atau hyperthermization, dimana kawasan perkotaan lebih tinggi daripada di kawasan pinggiran atau suburban (Li dkk., 2020; Moazzam dkk., 2022;