Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar ISSN : 1907-8153 (Print) ISSN : 2549-0567 (Online) Vol. XV No. 1, Juni 2020 DOI: https://doi.org/10.32382/medkes.v15i1.1060 50 KEJADIAN DIARE PADA BALITA BERDASARKAN TEORI HENDRIK L. BLUM DI KOTA MAKASSAR DIARRHEA EVENTS IN TODDLERS BASED ON HENDRIC L. BLUM THEORY IN MAKASSAR Wardiah Hamzah 1 , Fatmah Afrianty Gobel 1 , Nasruddin Syam 1 1 Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonsia Korespondensi ( K ): nasruddinsyam@gmail.com (081343764689) ABSTRACT The morbidity and mortality rate due to diarrhea is still high, causing diarrheal disease to become a health problem. Globally, there are almost 1.7 billion cases of diarrheal disease in children each year and cause the death of around 525,000 children under five in the world (WHO, 2017). This research aims to develop a model of the incidence of diarrhea in infants based on Hendrik's theory. L. Blum in Makassar City. The research method uses quantitative research with a cross sectional approach conducted at 4 puskesmas in Makassar, namely Kaluku Bodoa Puskesmas, Pattingaloang Puskesmas, Pampang Puskesmas and Rappokalling Puskesmas. Samples were 172 toddlers with diarrhea. The results found that there were socioeconomic influences (p value = 0.022), toddler conditions (p value = 0.022), environment (p value = 0.020), parenting (p value = 0.016) and health services (p value = 0.047). It is recommended to monitor the condition of toddlers, maintain environmental hygiene, counseling parenting toddlers and improve information about health services through posters and brochures Keywords : Diarrhea, socioeconomic, environment, toddler conditions, maternal parenting ABSTRAK Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit diare masih tinggi, sehingga menyebabkan penyakit diare menjadi masalah kesehatan. Secara global, ada hampir 1,7 milyar kasus penyakit diare pada anak setiap tahun dan menyebabkan kematian sekitar 525.000 anak balita di dunia (WHO, 2017). Penelitiam ini bertujuan mengembangkan model kejadian diare pada balita berdasarkan teori Hendrik. L. Blum di Kota Makassar.Metode penelitian mengunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional yang dilakukan pada 4 puskesmas di Kota Makassar yaitu Puskesmas Kaluku Bodoa, Puskesmas Pattingaloang, Puskesmas Pampang dan Puskesmas Rappokalling. Sampel adalah Balita yang menderita diare sebanyak 172 balita. Hasil penelitian menemukan bahwa ada pengaruh sosial ekonomi (pvalue = 0,022), kondisi balita (pvalue = 0,022), lingkungan (pvalue = 0,020), pola asuh (pvalue = 0,016) dan pelayanan kesehatan (pvalue = 0,047). Disarankan untuk memantau kondisi balita, menjaga kebersihan lingkungan, penyuluhan pola asuh balita dan meningkatkan informasi mengenai pelayanan kesehatan melalui poster dan brosur Kata kunci :Kejadian diare, sosial ekonomi, lingkungan, kondisi balita, pola asuh PENDAHULUAN Penyakit diare merupakan penyakit pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit organisme, dan masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Penyakit diare menduduki urutan kedua setelah pneumonia sebagai penyebab kematian Balita di Indonesia. Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit diare masih tinggi, sehingga menyebabkan penyakit diare menjadi masalah kesehatan. Secara global, ada hampir 1,7 milyar kasus penyakit diare pada anak setiap tahun dan menyebabkan kematian sekitar 525.000 anak balita di dunia (WHO, 2017). Hasil survey morbiditas penyakit diare tahun 2014 menunjukkan insidensi penyakit diare secara nasional sebesar 270/1000 penduduk (Kemenkes, 2017). Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi dengan penemuan kasus diare yang cukup tinggi. Pada tahun 2017 terjadi diare dengan jumlah kasus 230.048 (Kemenkes, 2017). Sedangkan di Kota Makassar pada tahun 2015 kejadian diare sebesar 28.257 kasus menurun di tahun 2016 sebesar 22.052 kasus, dimana angka kejadian diare tertinggi di Puskesmas Antang (1108 kasus) dan terendah di Puskesmas Tamalanrea Jaya (132 kasus) (Dinkes, 2017). Hendrik L. Blum mengungkapkan bahwa derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik (Blum, 1981). Keempat faktor ini merupakan