SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS “Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Innovation, Critical Thinking and Problem Solving, Communication, Collaboration/4C) ” Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 2017 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2017 | 104 KELAYAKAN INSTRUMEN DIAGNOSTIK PADA MATERI ASAM- BASA DAN KESETIMBANGAN KELARUTAN Ardiansah 1 , Mohammad Masykuri 2 , Sentot Budi Rahardjo 2 1 Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126 1 Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126 1 Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 57126 Email Korespondensi: ardiansah@student.uns.ac.id Abstrak Instrumen tes diagnostik three-tier multiple-choicedikembangkan untuk mengetahui validitas instrumen dalam memetakan konsepsi siswa pada materi asam-basa dan kesetimbangan kelarutan. Dengan acuan kurikulum kimia Sekolah Menengah Atas, dikembangkan tes diagnostik yang bisa diterapkan di Indonesia. Model pengembangan 4D menjadi dasar pengembangan tes ini. Sebanyak enam pakar yang memenuhi syarat dijadikan sebagai validator. Sebelum itu, data dianalisis dengan menggunakan deskriptif persentase kelayakan yang ditinjau dari aspek materi, bahasa, dan konstruksi pada lembar validasi. Saat validasi, terdapat beberapa saran yang mendasari perbaikan instrumen dari validator. Hasil validasi menunjukkan hasil yang “sangat layak”. Hal ini membuktikan bahwa instrumen yang dikembangkan bisa digunakan untuk memetakan konsepsi siswa dan digunakan sebagai alat diagnostik guru. Kata kunci: Instrumen diagnostik, asam-basa, kesetimbangan kelarutan, pemahaman konsepsi siswa, validasi instrumen Pendahuluan Instrumen tes diagnostik merupakan jenis instrumen yang berfungsi untuk mendeteksi kesalahan siswa untuk selanjutnya dijadikan bahan perbaikan dalam pembelajaran pada materi tersebut. Instrumen diagnostik menggunakan berbagai jenis tes maupun non-tes. Instrumen non-tes misalnya adalah wawancara, unjuk kerja.Instrumen tes dapat bervariasi tergantung kebutuhan dari peneliti. Sebagai contoh, peneliti menggunakan tes asosiasi kata (Şendur, Özbayrak, & Uyulgan, 2011), peta konsep(Ross & Munby, 1991), tes jawaban terbuka, dan tes jawaban tertutup. Tes dengan jawaban tertutup terdiri dari beberapa variasi. Menurut Gurel, Eryılmaz, & Mcdermott(2015), tes dengan jawaban tertutup terdiri dari pilihan ganda tradisional. Tes pilihan ganda tradisional pada umumnya berupa tes benar-salah atau tes dengan beberapa opsi. Namun, tes ini memberikan kesempatan menebak yang besar kepada siswa hingga menyebabkan data yang didapatkan menjadi tidak terlalu akurat. Untuk tujuan ini, Treagust (1987) mengembangkan tes bertingkat yang dapat mendiagnosis konsepsi siswa dengan baik. Tes ini terdiri dari dua, tiga, dan empat tingkat yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan yang spesifik. Tes diagnostik yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik tiga tingkat. Secara khusus, tes ini bertujuan untuk memetakan pemahaman konsepsi siswa yang terdiri dari tahu konsep, kesalahan positif, kesalahan negatif, kurang pengetahuan, keberuntungan menebak, dan tidak tahu konsep(I. S. Caleon & Subramaniam, 2010; I. Caleon & Subramaniam, 2010). Miskonsepsi atau