Penerapan Keamanan dan Sanitasi Pangan pada Produksi… Jurnal Agroteknologi Vol. 12 No. 02 (2018) 167 PENERAPAN KEAMANAN DAN SANITASI PANGAN PADA PRODUKSI MINUMAN SEHAT KACANG-KACANGAN UMKM JUKAJO SUKSES MULIA DI KABUPATEN TANGERANG Implementation of Sanitation and Food Safety of Beans-Based Healthy Drinks Production at The Jukajo Sukses Mulia Home Industry in Tangerang Regency Angelina Rianti 1) , Alvin Christopher 1) , Devi Lestari 1) , Warsono El Kiyat 1) * 1) Departemen Teknologi Pangan, Fakultas Ilmu Hayati, Universitas Surya Jl. MH. Thamrin Km 2.7, Banten 15117, Indonesia *E-mail: warsono.el.kiyat@gmail.com ABSTRACT Food contamination is not desired by producers or consumers. Safety factor is important in order to prevent side effects due to food contamination that can endanger health. Contamination in food occurs from small to large industries. Sanitation also plays an important role in many industries including the food industry. The research subject was a home industry of beans-based healthy drinks (BBHD), such as mung beans, soybeans, and red beanss drinks at Jukajo Sukses Mulia home industry in Tangerang Regency. This study was conducted to determine the level of security, sanitation, and sources of contamination in the BBHD industry Tangerang Regency. This study was carried out through observation and interview with the owner and the workers of Jukajo Sukses Mulia home industry. The result showed that the level of security and sanitation in the production environment was quite good. The potential source of contamination in the production process was the hygiene of the employees and the cleanliness of the production equipment. The critical control points were be located in filling, chilling, and storing processes. Total plate count value of mung beans, soybeans, and cashwes drinks were too numerous to count (TNTC), 3 x 10 3 , and 2 x 10 2 CFU/ml, respectively. Keywords: food safety, healthy drink, home industry, sanitation PENDAHULUAN Adanya cemaran pada produk pangan dapat mengakibatkan penyakit berbahaya hingga kematian. Pada salah satu artikel dari Pikiran Rakyat, pada tahun 2013 terdapat 10.700 kasus keracunan pangan yang mengakibatkan kematian di Indonesia (Effendi, 2017). Selain itu, pada tahun 2016 terdapat data yang menunjukkan sekitar 14,9% dari 26.537 sampel pangan tidak memenuhi syarat. Produk pangan tersebut dikatakan tidak memenuhi syarat karena mengandung bahan berbahaya, cemaran mikroba atau bahan tambahan pangan (BTP) yang kadarnya melebihi batas maksimum yang diizinkan. Menurut Putri (2017), pada tahun 2011-2015, produk makanan yang tidak memenuhi syarat mengalami peningkatan sekitar 35 persen. Kemudian, pada tahun 2013-2015, laporan mengenai keracunan makanan yang serius meningkat dari 48 menjadi 61 kasus di 34 provinsi. Oleh karena itu, untuk mengurangi kontaminasi pada proses produksi di suatu industri, hal tersebut harus diperhatikan dengan baik, yaitu dengan menerapkan GMP (good manufacturing practices) dan HACCP (hazard analysis and critical control point) sehingga kasus keracunan makanan dapat dikurangi. Salah satu bagian dari GMP adalah sanitasi. Sanitasi memegang peranan penting dalam berbagai industri termasuk industri pangan. Sanitasi pangan menentukan seberapa higienis suatu produk dihasilkan. Sanitasi juga mendukung program HACCP yang diterapkan dalam industri pangan.