p-ISSN: 2356-0533; e-ISSN: 2355-9195 . Jurnal Elkolind Volume 9, Nomor 2, Juli 2022 DOI: http://dx.doi.org/10.33795/elkolind.v9i2/410 120 1 Program Studi D-IV Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang , Jln. Soekarno Hatta no. 9 Malang, Jawa Timur, 65141, Indonesia; e-mail: lidwinaepriliasari@gmail.com 2,3 Program Studi D-IV Teknik Elektronika Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Malang , Jln. Soekarno Hatta no. 9 Malang, Jawa Timur, 65141, Indonesia; e-mail: budhy.setiawan@polinema.ac.id, ari.murtono@polinema.ac.id Rancang Bangun Alat Pengatur Debit Biji Plastik Untuk Extruder 3D Printing dengan Metode Vibrasi Lidwina Epriliasari Permata Utama 1 , Budhy Setiawan 2 , Ari Murtono 3 [Submission: 05-01-2022, Accepted: 01-03-2022] Abstract — In the process of printing three-dimensional objects or what is often referred to as 3D Printing, there are still difficulties, namely where the problem experienced is having to pour plastic seeds that can enter the hopper hose. One application of technology that can solve these problems is to create a system that allows the system to control the amount of plastic seed entering the hopper hose. In this system, the motor opens when the infrared sensor does not detect the presence of plastic seeds, and closes when the infrared sensor detects the presence of plastic seeds. The amount of rotation so that the servo motor can open and close is determined by the microcontroller, namely Arduino Nano. While the infrared sensor in this system functions to detect the presence or absence of plastic seeds, as well as Arduino nano as the microcontroller of this system. In the tests carried out, the results showed that the system could run well, where the servo motor opened for 10 seconds with a large rotation of 50 ° - 100 ° with a weight of plastic seeds that fell 70 grams at the bottom of the inlet hopper while 55 grams at the top inlet hopper. Keywords— Arduino Nano, infrared sensor, plastic seed, servo motor Intisari— Dalam proses mencetak benda berdimensi tiga atau yang sering disebut dengan 3D Printing masih terdapat kesulitan yaitu dimana permasalahan yang dialami adalah harus menuangkan biji plastik yang bisa masuk ke dalam selang hopper. Pemanfaatan teknologi yang dapat dilakukan untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah membuat sistem yag mana dapat mengatur berapa banyak debit biji plastik yang dapat masuk ke dalam selang hopper. Dalam sistem ini bekerja dengan cara dimana motor akan bekerja secara membuka apabila sensor infrared tidak mendeteksi adanya biji plastik dan motor menutup apabila sensor infrared mendeteksi adanya biji plastik. Besar putaran agar motor servo bisa membuka dan menutup ditentukan oleh mikrokontroler yaitu Arduino Nano. Sedangkan sensor infrared pada sistem ini berfungsi untuk mendeteksi ada atau tidaknya biji plastik, serta Arduino nano sebagai mikrokontroler dari sistem ini. Hasil dari pengujian yang telah dilakukan menunjukkan sistem dapat berjalan dengan baik, dimana motor servo membuka selama 10 detik dengan besar putaran 50° - 100° dengan berat biji plastik yang jatuh 70 gram pada bagian bawah inlet hopper sedangkan 55 gram pada inlet hopper bagian atas. Kata Kunci— Arduino Nano, Sensor infrared, motor servo, biji plastik I. PENDAHULUAN Printer 3D telah populer di industri Indonesia dalam beberapa tahun terakhir karena sejak tahun 1980 telah digunakan untuk membuat prototipe dengan cepat yang biasanya memakan waktu lama. 3D printing juga dapat menghemat banyak waktu dalam mengembangkan dan membuat produk baru [1]. Teknologi baru dari 3D printing dapat mencetak komponen yang rumit dan proses produksi yang singkat dan sederhana. Selain itu 3D printing memiliki beragam pilihan bahan baku dan dapat didaur ulang kembali, seperti menggunakan biji plastik HDPE. Hal ini menjadikan teknologi 3D printing mulai banyak digunakan dan menjadi tren saat ini. Teknologi ini digunakan secara luas dalam berbagai bidang, seperti memproduksi prototype komponen mekanik secara cepat dari gambar software 3D [2]. Bahan baku yang umum digunakan dalam 3D Printing adalah plastik. Pemrosesan plastik menunjukkan peningkatan secara tahunan. Penggunaanya berada di semua bidang industri dan dalam berbagai aplikasi termasuk bahan kemasan, produk rumah tangga, produk medis, otomotif, penerbangan, dan elektronik. Bersamaan dengan produksi proses, limbah dalam jumlah besar dihasilkan dan produk pada akhir siklus menumpuk. Hal ini menjadi permasalahan jangka panjang bila tidak ditemukan solusi efektif, Selain itu, sampah kantong plastik membutuhkan waktu lama 20 hingga 500 tahun untuk terurai. Untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan, limbah plastik dapat didaur ulang menjadi biji palstik yang berpotensi dimanfaatkan menjadi bahan baku produk lainya, termasuk bahan baku 3D printer. Dalam pembuatan sebuah prototype dengan