603 Jurnal Psikologi Konseling Vol. 16 No. 1, Juni 2020 GAMBARAN WORK-LIFE BALANCE PADA JAKSA WANITA YANG TELAH BERKELUARGA Iwinda Pratama Hae 1 & Ratriana Y.E.Kusumiati 2 Email : iwindahae24@gmail.com 1 Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana 1,2 Abstract Married women who are working will encounter double roles. Participants in this study involve married female prosecutors having a family and children. Based on the initial interview with the participants, the prosecutors has a long responsibility starts from the investigation process with the police department, witness interrogation, case analysis and making the lawsuit, until the process of transferring the lawsuit to the court and convincing the judge with the lawsuit. Finally, the prosecutors also take an action in executing the criminals. They sometimes confront with the system problem versus their conscience which causes job stress and it influences on their family or they are on the conflict situation. However, there is also an enhancement situation; the job gives a positive advantage to the participants. The purpose of this study is to get the description of work-life balance on married female prosecutors having a family. The method used in this study is qualitative with the phenomenology approach of collecting data is by interview. There are 5 main themes in this study, such as job, family, experience of work-life balance, strategy and balance achievement. The result of this study shows that having double roles or experience of work-life balance, both participants experience similar conflict dynamics and enhancement orexperience ofwork-life balance. Both participants also make a perception that theyhave been in balance so far. They keep trying to be professional in working and also to spare their time be with their family. Keywords: Work-Life Balance, Conflict, Enhancement, Female Prosecutors, Married Abstrak Wanita yang bekerja dan berkeluarga akan diperhadapkan dengan peran ganda. Partisipan penelitian melibatkan jaksa wanita yang telah berkeluarga dan mempunyai anak. Berdasarkan wawancara awal dengan partisipan, jaksa mempunyai tanggung jawab yang panjang mulai dari proses penyidikan bersama polisi, pemeriksaan saksi, analisa perkara dan membuat tuntutan hingga pada tahap melimpahkan perkara ke pengadilan untuk disidangkan dan membuat yakin hakim atas penuntutannya hingga eksekusi. Jaksa terkadang diperhadapkan dengan persoalan sistem vs hati nurani yang berakibat pada job stress dan berpengaruh pada keluarga atau berada dalam situasi conflict. Namun ada pula situasi enhancement yaitu pekerjaan memberi manfaat positif bagi partisipan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapat gambaran work- life balance pada jaksa wanita yang telah berkeluarga. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara. Penelitian ini mendapatkan 5 tema utama yaitu pekerjaan, keluarga, pengalaman work-life balance, strategi, dan pencapaian keseimbangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menjalani peran ganda atau dalam pengalaman work-life balance, kedua partisipan mengalami dinamika conflict dan enhancement atau pengalaman work-life balance yang tidak jauh berbeda. Kedua partisipan juga mempersepsi bahwa mereka sudah seimbang. Partisipan berusaha tetap profesional dalam pekerjaan dan tetap memiliki waktu bagi keluarga. Kata kunci : Work-Life Balance, Conflict, Enhancement, Jaksa Wanita, Berkeluarga. PENDAHULUAN Persentase tenaga kerja formal wanita sepanjang tahun 2015 hingga 2017 terus mengalami kenaikan yaitu pada tahun 2015 persentasenya sebesar 37,78 %, tahun 2016 sebesar 38,16 %, dan tahun 2017 sebesar 38,63 % (Badan Pusat Statistik, 2018). Khususnya di NTT, pertumbuhan angkatan kerja perempuan lebih tinggi yaitu 2,28 % dibanding laki- laki yaitu 2,14 %. Hal tersebut ditandai dengan adanya peningkatan jumlah angkatan kerja perempuan tahun 2014- 2017. Ini menunjukkan bahwa adanya pergeseran makna tugas perempuan hanyalah mengurus rumah tangga (BPS,