9 Ethnic conflict thEory, rEligiosity, and cultural Bond: approachEs comBinEd to rEsolvE rEligious .... Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 14 No. 1 Penelitian Ethnic Confict Theory, Religiosity, and Cultural Bond: Approaches Combined to Resolve Religious Intolerance in Ambon Cahyo Pamungkas Research Center for Regional Resources, The Indonesia Institute of Sciences (LIPI) Email : cahyopamungkas@gmail.com Naskah diterima redaksi tanggal 20 November 2014, diseleksi 7 April 2015 dan direvisi 19 April 2015 Abstrak Penelitian ini berupaya untuk mengkaji praktik- praktik intoleransi agama, yakni fenomena menghindari kontak antarkelompok sosial di Ambo, dengan menggunakan teori konfik etnik, religiusitas, dan ikatan budaya. Teori konfik etnik menjelaskan bahwa identifkasi etnis dan agama berhubungan dengan exclusionism agama karena adanya ancaman yang dipersepsikan. Nilai-nilai intrinsik agama dan ikatan kebudayaan cenderung meningkatkan kerukunan beragama, mengurangi identifkasi keagamaan dan batas- batas sosial antara kelompok agama yang berbeda. Teori konfik etnik menyebutkan bahwa semakin meningkat kompetisi antarkelompok etnik pada tingkatkan individu maupun kontekstual, dan semakin meningkat persepsi ancaman, tingkat identifkasi terhadap kelompok akan meningkat. Hal ini akan mendorong munculnya sikap nasionalis dan reaksi ekslusivisme. Religiusitas dalam penelitian ini merujuk pada konsep pandangan pluralistik agama dan interpretasi kitab suci secara hermeneutik. Individu yang memiliki identifkasi keagamaan yang tinggu cenderung mendukung intoleransi agama karena nilai-nilai ekstrinsik keyakinan agama dapat menciptakan prasangka terhadap kelompok lain. Ikatan kebudayaan dalam penelitian ini meliputi aliansi tradisional antara negeri-negeri yang memiliki afliasi agama yang berbeda. Ikatan kebudayaan ini, yang merupakan bagian dari hukum adat dan mengandung kearifan lokal, berfungsi untuk mencegah ketegangan agama antarnegeri. Sebagai implikasi teoritis dari penelitian ini adalah bahwa menyelesaikan intoleransi beragama harus menggunakan pendekatan interdisipliner yang terdiri dari dimensi kognitif, agama, dan kebudayaan. Kata kunci: teori konfik, religiusitas, ikatan kebudayaan, dan intoleransi. Abstract This study tries to investigate religious intolerance, namely intergroup contact avoidance in Ambon by using i.e. ethnic confict theory, religiosity, and cultural bond. Ethnic group confict theory suggests that ethnic and religious identifcation are more likely related to religious exclusionism due to perceived group threat. Intrinsic religious values and cultural bonds owned by certain communities tend to increase religious harmony, to reduce religious identifcation and to social boundaries between different religious groups. Ethnic group confict theory mentions that the stronger the actual competition between ethnic groups at an individual as well as a contextual level, and/ or the stronger the perceived ethnic threat, the more the mechanisms of social (contra-) identifcation will be reinforced, inducing stronger nationalist attitudes and exclusionist reactions. Religiosity in this study refers to concept of pluralistic views of religion and hermeneutic interpretation. Individuals who possess strong religious identifcation tend to support for religious intolerance due to extrinsic values of religious convictions may contribute to creating intergroup bias. Cultural bond in this study includes traditional alliances between villages, that have different religious affliation. Such cultural bond, that part of customary laws and contains local wisdom, functions to prevent religious tensions between villages. As theoretical implication of this study is that resolving religious intolerance should use interdisciplinary approaches that consists of cognitive, religious, and cultural dimension. Keywords: confict theory, religiousity, cultural bond, and intolerance.