Valensi Vol. 2 No. 5, Nopember 2012 (534-540) ISSN : 1978 - 8193 534 Uji Aktivitas Antidiabetes Fraksi Etil Asetat Daun Pandan Wangi (P. amaryllifolius Roxb.) dengan Metode α-Glukosidase Dede Sukandar, La Ode Sumarlin, Hilyatuz Zahroh dan Eka Rizki Amelia Program Studi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Ir. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 Indonesia Telp. (62-21) 7493606, E-mail: d_sukandar@hotmail.com Abstrak Telah dilaporkan hasil penelitian untuk mengetahui aktivitas antidiabetes setiap fraksi dalam ekstrak etil asetat daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) secara in vitro menggunakan metode α-glukosidase. Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan pelarut etil asetat dan pemisahan komponen kimia dengan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil KLT dengan fase gerak n-heksan:etil asetat (3:1) dan penambahan 3 tetes asam asetat glasial menghasilkan lima fraksi dengan Rf masing-masing sebesar 0,20; 0,30; 0,55; 0,60; dan 0,70. Fraksi 2 memiliki aktivitas antidiabetes tertinggi dengan nilai IC 50 relatif 77,57 ppm. Kata Kunci : antidiabetes, fraksi etil asetat, daun pandan wangi, α-glukosidase Abstract A research has been reported to know antidiabetes activity of ethyl acetate extract fractions of screw pine leaf fragrant (Pandanus amaryllifolius Roxb.) by α-glukosidase method. Extracting made by macerated sample with ethyl acetate as solvent followed by thin layer chromatograpy to separating components. Thin layer chromatography (TLC) result with n-hexan:ethyl acetate (3:1) as eluent and addition of three acetic acid glacial drip provides five fractions with Rf each of 0,20; 0,30; 0,55; 0,60; and 0,70. It is found that Fraction 2 has highest antidiabetic activity with relative IC 50 value 77,57 ppm. Keywords : antidiabetes, fraction of ethyl acetate, fragrant screw pine leaf, α-glukosidase 1. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang terletak di daerah khatulistiwa dan beriklim tropis. Indonesia memiliki sumber daya alam hayati yang sangat beranekaragam. Sumber daya alam hayati ini merupakan sumber senyawa kimia yang tak terbatas jenis dan jumlahnya. Oleh karena itu, keanekaragaman hayati dapat diartikan sebagai keanekaragaman kimiawi yang mampu menghasilkan bahan-bahan kimia untuk kebutuhan manusia, seperti obat-obatan, insektisida, kosmetika, dan sebagai bahan dasar sintesa senyawa organik yang lebih bermanfaat (Lenny, 2006). Pengobatan tradisional sebagian besar menggunakan ramuan yang berasal dari tumbuh- tumbuhan baik berupa akar, batang, biji, bunga, daun, ataupun kulit kayu. Bagian-bagian dari tumbuhan tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder yang terdiri dari empat golongan utama, yaitu steroid, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid. Senyawa metabolit sekunder tersebut memiliki aktivitas biologis. Salah satu di antaranya dapat mengobati penyakit diabetes melitus. Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) di dalam darah relatif tinggi (Soegondo, 2005). Menurut Dallimunthe (2004), berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF) jumlah penderita diabetes