Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Volume 21, Nomor 1, Februari 2023 Journal homepage: http://iptek.its.ac.id/index.php/jats 13 Pengaruh Tata Guna Lahan Terhadap Hidrograf Aliran di Sub-Sub DAS Keyang- Slahung-Tempuran Menggunakan Model SWAT M. Khuzaimy Rurroziq Basthoni 1,* , Mahendra Andiek Maulana 1 , A.A.Ngr. Satria Damarnegara 1 Departemen Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya 1 Koresponden*, Email: khuzaimybasthoni@gmail.com Info Artikel Abstract Diajukan 30 Agustus 2022 Diperbaiki 13 Januari 2023 Disetujui 18 Januari 2023 Keywords: SWAT, SUFI-2, rainfall-runoff, calibration, validation. Area development leads to land use changes that may cause surface runoff increases. These alterations are responsible for flood and inundation in certain areas. Soil and Water Assessment Tool (SWAT) can be used to perform a rainfall-runoff model. Hence, the flow change can be estimated comprehensively. To ensure the reliability of the model, calibration and validation are required. The calibration and validation stages were conducted using SUFI- 2 (Sequential Uncertainty Fitting Version 2) method to determine the most influential or sensitive parameter. Meanwhile, the reliability test was assessed using the , NSE, and PBIAS methods. The reliability test for the calibration and validation provides a good result. In advance, this research shows that the increase in forest area may decrease the peak flow during flood occurrence. Kata kunci: SWAT, SUFI-2, hujan-aliran, kalibrasi, validasi Abstrak Berkembangnya suatu kawasan menyebabkan terjadinya perubahan tata guna lahan sehingga mengakibatkan peningkatan limpasan permukaan. Perubahan ini bertanggung jawab atas terjadinya banjir dan genangan di daerah tertentu. Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dapat digunakan untuk memodelkan hujan-aliran. Oleh karena itu, perubahan aliran dapat diperkirakan secara komprehensif. Untuk memastikan keandalan model, diperlukan kalibrasi dan validasi. Tahapan kalibrasi dan validasi dilakukan dengan menggunakan metode SUFI-2 (Sequential Uncertainty Fitting Version 2) untuk mengetahui parameter yang paling berpengaruh atau sensitif, sedangkan uji keandalan dinilai menggunakan , NSE, dan PBIAS. Nilai uji keandalan tahap kalibrasi dan validasi memberikan hasil kategori yang baik. Selanjutnya, penelitian ini menunjukan dengan meningkatkan luasan kawasan hutan mampu menurunkan debit puncak saat terjadi banjir. 1. Pendahuluan Perubahan tata guna lahan terjadi diakibatkan salah satunya adalah berkembangnya suatu kawasan tersebut. Tata guna lahan sangat berperan penting dalam penyeimbangan ekosistem dan ketersediaan air termasuk juga Daerah Aliran Sungai (DAS) [1]. Masing-masing tata guna lahan mem- punyai karakteristik limpasan permukaan yang berbeda da- lam mengendalikan air hujan yang turun. Suatu kawasan hutan mampu menahan dan menyimpan sebagian air hujan untuk tidak melimpas langsung ke outlet sehingga air tidak mudah untuk meluap yang mengakibatkan banjir di musim penghujan ataupun air tidak mudah hilang yang menye- babkan kekeringan di saat musim kemarau. Sub-sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Keyang-Slahung- Tempuran (KST) merupakan kawasan sub-sub DAS yang terletak di Kabupaten Ponorogo. Berkembangnya kawasan sub–sub DAS KST ini menyebabkan perubahan luasan tata guna lahan dari tahun ke tahun sehingga diperlukan pene- litian untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap debit aliran yang di akibatkan oleh perubahan tata guna lahan. Pemodelan hujan aliran merupakan salah satu cara pendekatan yang paling mudah untuk mendapatkan debit aliran. Sebagian besar pemodelan hujan aliran meng- gunakan berbagai program bantu perangkat lunak salah satunya seperti SWAT. SWAT (Soil and Water Assessment Tool) merupakan salah satu program bantu pemodelan hujan aliran berbasis semi-distributed serta merupakan model hidrologi skala DAS berbasis fisik, deterministik, dan kontinyu, yang dikembangkan oleh USDA Agricultural Research Service [2]. Dalam menganalisis pemodelan hidrologi maka peneliti harus memilih model hidrologi dan menunjukan validitas kinerjanya untuk penilaian yang di inginkan [3]. Pemodelan-pemodelan yang membahas peru- bahan tata guna lahan di suatu DAS dengan menggunakan program bantu ArcSWAT telah banyak dilakukan seperti DAS Tanggul Jember, Indonesia [4]; DAS Pagsanjan- Lumban, Filipina [5]; DAS Kaptagat, Kenya [6], DAS Cisadane, Indonesia [7] dan Sub-DAS Metro, Indonesia [8].