Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Karakters Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Langsa Page 56 Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Kemampuan Beprikir Kritis dan Karakter Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Langsa Aburizal Bakri 1 , Mulyono 2 , Edi Syahputra 2 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengetahui 1) Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 2) Pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap karakter siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 3) Interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 4) Interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap karakter siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa. Penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimen dengan pendekatyan kuantitatif. Pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik undian, dimanan kelas VII.2A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII.5B sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir krtitis dan angket karakter siswa. Untuk pengujian hipotesis digunakan Anava dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 2) Terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap karakter siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 3) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa; 4) Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap karakter siswa kelas VII SMP Negeri 3 Langsa Kata Kunci: Model Pembelajaran Inkuiri, Kemampuan Berpikir Kritis, Karakter Siswa PENDAHULUAN Pembelajaran pada kurikulum 2013 memiliki tujuan untuk mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thingking (HOT) sejak dini. Berpikir kritis merupakan perwujudan dari HOT (Rosmaiyadi, 2017). Keterampilan berpikir kritis diperlukan dalam matematika, karena memiliki peran yang sangat dominan dalam mendidik siswa. Siswa diharapkan memperoleh kemampuan untuk mengelola informasi agar dapat bertahan dalam keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif (Simbolon, Manullang, Surya dan Syahputra, 2017). Berpikir kritis merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan pada setiap siswa. Menurut Samosir (2018), berpikir kritis adalah proses mencari, memperoleh, mengevaluasi, menganalisis, mensintesis dan konseptualisasi informasi sebagai panduan untuk mengembangkan pemikiran seseorang dengan kesadaran diri, dan kemampuan untuk menggunakan informasi ini untuk menambah kreativitas dan mengambil risiko. Hal senada di yang diungkapkan oleh Temel (2014) Berpikir kritis adalah berpikir yang membantu dalam memecahkan masalah dan membuat penilaian. Berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang mendeskripsikan proses- proses interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi dan pengaturan diri. Kemampuan berpikir kritis diartikan sebagai pemikiran reflektif dan logis yang berfokus untuk memutuskan apa yang harus diyakini atau dilakukan (Putu Verawati, Wahyudi, Taufik, 2018). Namun kenyataannya saat ini kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran matematika masih rendah dan perlu ditingkatkan. Berdasarakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ayu Latifa, Putu Verawati, Harjono (2017) kemampuan berpikir kritis siwa rendah dikarenakan pada proses pembelajaran yang diterapkan selama ini belum mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, karena latihan untuk peningkatan kemampuan tersebut belum dilakukan. Penyebab lainnya adalah karena model pembelajaran yang digunakan terkesan monoton dan kurang variatif. Sundahry, Fitria, Rakimahwati (2018) menambahkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa yang belum berkembang salah satunya disebabkan oleh pembelajaran di sekolah yang tidak memberdayakan keterampilan berpikir kritis siswa. Faktanya bahwa peserta didik kurang mampu mengidentifikasi argumen. Peserta didik tidak memiliki pengalaman langsung secara nyata sebagai pemahaman dasar dari abstrak sehingga peserta didik kurang mampu mengidentifikasi logika mana yang salah. Peserta didik dalam diskusi diskusi kelompok kurang mampu membedakan informasi, pendapat, dan asumsi. Hal di atas sejalan dengan hasil observasi awal yang penulis lakukan pada siswa kelas VIII SMP ———————————————— 1 Corresponding Author: Aburizal Bakri SMP Negeri 3 Langsa, Kota Langsa, Aceh, Indonesia E-mail: aboeriezalbakrie90@gmail.com 2 Co-Author: Mulyono & Edi Syahputra Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan, Medan, 2022, Indonesia